Sabtu, 02 April 2011

Meretas Harapan Dan Cemas Dalam Hati

Sebuah Catatan Refleksi Diri
Oleh Ismail Sunni Muhammad



       Khouf dan Raja’ tak pernah lepas dari hati seorang yang beriman pada Allah, dengan kesungguhan dan kemantapan hati. Takkan pernah hilang dan luntur, karena setiap orang yang beriman pasti merasa dirinya lemah, fakir tak memiliki apa-apa, tak kuasa melakukan apa-apa tanpa adanya hidayah dan inayahNya. Merasa selalu berharap dari lubuk hati mereka yang terdalam, untuk bisa selalu menjauhi kemaksiatan yang semakin merajalela, membabi buta, melumat siapapun yang imannya tak seteguh batu karang yang tak bergeming ditampar sang ombak laut yang ganas. Mereka senantiasa memohon agar diberikan kemudahan melakukan amaliah hasanah, diberikan keleluasaan untuk bisa bermanfaat bagi sesamanya, diberikan kebebasan untuk bisa berpuas diri menyembah Kholiqnya dengan setulus hati.


        Cemas, merambah, menggelayut dan menghantui hati setiap orang beriman. Cemas akan impian yang tak tercapai, cemas akan harapan yang pupus, cemas akan datangnya kematian, cemas akan keadaan keluarga, saudara, masyarakat dan dirinya sendiri. Takut, khawatir apakah ia siap, apakah ia mampu, apakah ia diterima. Cemas membuat hati seorang atheis sekalipun kembali pada Rabbnya dalam keadaan terjepit nan terdesak. Cemas menjaga seseorang dari hal-hal dan perbuatan sia-sia, akibat yang fatal, waktu yang terbuang, kesempatan yang hilang dan aktifitas negative yang merugikan orang lain.       

          Harapan. Kata yang penuh dengan buncahan bunga optimisme.  Kata yang membangkitkan semangat dan gairah. Kata yang melahirkan senyuman, menghapus bibir masam dan wajah duka. Kata yang mendinginkan hati yang panas, melembutkan kekecewaan dengan halus. Harapan didambakan oleh mereka yang terdampar dalam pulau Lara, tenggelam dalam lautan musibah, larut dalam pusaran amarah dan kebencian, dan tersesat dalam labirin pesimisme kehidupan. Layaknya obat, harapan menyembuhkan hati yang sakit, menggantikan impian yang musnah dengan impian lain yang lebih indah. Menghibur, memotivasi, membesarkan, menyatukan obsesi dengan keyakinan baru.        

           Allah sungguh sangat bijaksana. Tak mungkin Allah membiarkan hambaNya jatuh, terperosok dalam jurang keputusasaan. Terkubur dalam kesedihan yang mendalam. Allah pasti memberikan kompensasi, sesuatu yang dapat menggantikan keinginan yang tak tergapai sebelumnya. Dan balasan Allah jauh lebih baik, lebih besar, lebih berharga, lebih sarat akan hikmah yang membuat kita lebih hati-hati dan arif dalam meniti jalan kehidupan. Namun, Allah tidak serta merta memberikan Harapan atau apapun yang kita inginkan. Melainkan Ia memberikan perantara, kesempatan atau peluang tak pernah kita duga darimana datangnya dan siapa yang menyampaikannya. Maka, titik akhir akan kembali pada hamba. Apakah dia hanya diam, termenung, seraya meyakini bahwa itu nasibnya, tanpa ada semangat untuk merubah nasibnya agar lebih baik. Membiarkan dirinya. Ataukah dia bergerak dinamis, layaknya air yang terus mengalir ke hilir sekalipun terhambat di hulu. Sekalipun ternodai oleh kotoran. Hingga ia sampai ke laut dan tersucikan, terbebaskan mengalir kemanapun ia mau. Berusaha sambil berharap dalam suntuk doanya, khusyuk sholatnya, air mata tahajudnya.             

                  Pepatah mengatakan, “where there is a will, there is a way.” Pepatah lain menyahut,” Man jadda wajada, wa man shobaro dhofiro.” Allah menyempurnakan dalam KalamNya, “Wa alladzina jahadu fiina lanahdiyannahum subulana”. Maka, masihkah terbersit dalam pikiran dan jiwa kita, bahwa harapan itu telah sirna? ..        

                 Cemas dan harapan sekali lagi akan selalu ada dalam hati orang beriman, mereka yang benar-benar mempercayai Allah, Rasul dan KitabNya. Mengapa? Karena harapan dan cemas itu akan pudar dari diri seseorang yang hatinya telah terkubur kesombongan, mengeras layak baja hitam nan pekat. Mereka selalu mengandalkan diri mereka, menafikan keberadaan penciptanya, lupa akan hakikat keberadaannya di dunia. Mereka takkan pernah cemas, kerana kecemasan itu akan hilang dengan mudah dengan  rasa percaya diri mereka.   

          Cemas dan harapan adalah suatu proses dan yang akan menjadi tujuan akhir seorang hamba yang ingin selalu bersamaNya. Eksistensi cemas dan harapan menunjukkan bahwa mereka benar-benar bergantung pada Rabbnya. Lihatlah para auliya Allah, mereka sedikitpun tak pernah berharap pada sesamanya, hanya pada penciptaNya. Khauf dan raja’ mereka pada Allahlah yang membuat mereka tak sedikit pun gentar, takut, cemas akan dimusuhi, dibenci, dikucilkan. Karena mereka bersama Rabb yang mereka cintai, mereka harapkan, mereka haqqul yakin bahwa Allah mendengar, melihat, mengawasi dan siap menolong mereka, mereka sangat mantap bahwa setiap kejadian yang terjadi pada kehidupan mereka, yang telah digariskan oleh mereka, sekalipun sangatlah pahit, mereka akan menerima dengan sabar dan tabah, seraya terus memohon dalam sujud sholat mereka, lautan doa dzikir mereka agar diberikan jalan keluar yang terbaik.       

               Nurani mereka yakin bahwa Allah memberikan semua yang terbaik bagi hambaNya, kala ujian dan cobaan itu datang, mereka melihat Allah bahwa Allah ingin menguji kekuatan mental dan iman mereka, kala nikmat itu datang, mereka menyadari bahwa penciptanya ingin mengetahui, apakah mereka mengkufuri atau semakin bersyukur pada tuhannya. Maka pada akhirnya, cukuplah Allah sebagai Sang pemberi Nikmat dan tempat bersandar mereka. Iman mereka selalu kuat karena keyakinan yang  tertancap dalam sedalam palung laut dalam samudra terluas. Maka, mereka yang telah lulus dari ujian Allah, akan menjadi kekasih Allah, yang saat berjalan kakinya, saat berbicara, bertingkah laku selalu terorientasi untuk Khaliqnya, bersama dan dengan bantuan kholiqnya. Dan Allah berfirman, “Inna Auliya Allah la khoufun ‘alaihim wa la hum yahzanun” ..                           

  Malang, 11 August 2010, 08.02 wib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar