Selasa, 30 Oktober 2012

Mengenal Macam-Macam Tulisan dalam Rubrik Majalah (Bag.II)


Sebuah Catatan Media Sederhana
Oleh Ismail Sunni Muhammad 

Bismillah ar-Rahman ar-Rahiim
Sekapur Sirih:

Apakah itu Refleksi, Suara Mahasiswa, An-Nisa, Galeri Insani, Biografi, Galeri Foto, Bahasa, Bilik Ma'had, serta Catatan Akhir? Sebentar-sebentar, apakah kamu juga sudah tahu mengenai apa itu Artikel, Feature, Esai, Puisi, Prosa, Tulisan Ilmiah dan Tulisan Ilmiah Populer sebelumnya?  .. 

Sudah tahu atau tidak, membaca catatan sederhana ini membuatmu semakin yakin akan batasan dan perbedaan tiap macam rubrik di atas. Maka, tak perlu menunggu lama, kami sajikan pada anda potongan "Kue Pertama" bagian II.. 

Ohya, kalau teman-teman merasa "Kue"nya "terlalu manis" atau sebaliknya, "kurang gula" .. Jangan segan untuk memberi saran dan kritik konstruktifnya. ..
Selamat menikmati .. . ^^
 -----ooOoo-----

#10. Refleksi
Beberapa definisi mengenai Refleksi.
Dalam bukunya How We Think (1933), Dewey menghuraikan pemikiran refleksi sebagai satu cara menghadapi situasi bermasalah. Seseorang itu akan melalui proses aktif dan sadar dengan memikirkan masalah secara refleksi dan menyelesaikannya secara praktik. Dewey (1933) mendefinisikan pemikiran refleksi sebagai "active, persistent, and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it and the further conclusions to which it tends" (p. 9).

Dengan berfikir secara refleksi, seseorang dapat "transform a situation in which there is experienced obscurity, doubt, conflict, disturbance of some sort, into a situation that is clear, coherent, settled, harmonious" (pp. 100–101). Dengan arti kata lain, seseorang dapat mengubah suatu keadaan keraguan, konflik, dan gangguan yang dialaminya ke dalam keadaan yang nyata, koheren, tenang dan harmonis.

Menurut Dewey, proses manusia berfikir bermula dengan permasalahan yang dihadapinya atau keraguan yang dirasa atau dihadapi seseorang. Selama hubungan kita dengan keadaan sekitar belum selesai, kita tidak bisa berfikir sepenuhnya. Apabila kita berhadapan dengan situasi yang belum tuntas, bermasalah dan berlainan daripada kebiasaan, kita mulai berfikir secara reflektif untuk mencari penyelesaiannya. Maka terbitlah ide- ide atau beberapa pemikiran untuk mencari jalan keluar.

Menurut Hanifah (2004) refleksi menurut  sebagian orang adalah satu ulasan terhadap tingkah laku seseorang untuk memastikan ketepatan atau keakuratannya pada suatu peraturan yang telah ditentukan. Refleksi juga bisa diartikan dengan menjadikan suatu situasi bermasalah dalam kehidupan seseorang sebagai satu cara memperoleh pemahaman atau pengertian baru dalam kehidupannya.

Hanifah juga mendefinisikan refleksi sebagai satu proses merenung, menganalisis dan mencari alasan dan seterusnya membuat jalan alternatif dan tindakan untuk memperbaiki diri yang dilakukan secara kontinyu.

Menurut Shulman (1987), dalam konteks pendidikan, kebolehan membuat tranformasi dan refleksi menjadikan guru senantiasa mempelajari dan memahami sesuatu yang baru hasil dari sesuatu yang telah dilaluinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Refleksi berarti
(1). gerakan atau pantulan di luar kemampuan (kesadaran) karena suatu hal yang dating dari luar.
(2). Gerakan otot yang terjadi karena suatu hal dari luar.

Tindak refleksi merupakan tingkah pemikiran ulang pengalaman yang memerlukan prediksi dan analisa baik pada unsur- unsur yang tersurat dan tersirat. Proses ini melahirkan bentuk pengandaian dan garis sebab akibat yang berasaskan fakta, argument, dan analisa.

Tujuan Refleksi.
Mengambil kesan, hikmah dan pelajaran dari suatu kejadian, menjadikan refleksi sebagai asas untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas, mengembangkan pola pikir untuk melahirkan kreativitas dan inovasi.

Mengasah nalar analisa suatu masalah, dari melihat faktor yang dapat membantu dalam meningkatkan atau menurunkan, berdasarkan lingkup tempat dan waktu, kekuatan atau kelemahan metodologi yang digunakan dari paradigma tertentu, langkah- langkah tepat untuk menyelesaikan masalah dengan persepsi yang berubah- ubah. 

Ciri Refleksi.
(1). Bermula dengan mengingat kembali.
(2). Melibatkan perasaan (domain afektif) terhadap sesuatu.
(3). Menentukan usaha secara sadar (conscious effort).
(4). Bersedia mengubah sikap, kesadaran diri, perbuatan dan tingkah laku positif.

Bila ditarik benang merah dari berbagai informasi yang terkumpul bisa disimpulkan bahwa Refleksi adalah macam tulisan yang menjadi buah perenungan, pengamatan dan pertimbangan yang matang dari sebuah permasalahan/ kasus dengan tujuan dan ciri yang tertentu.
-----ooOoo-----

#11. Suara Mahasiswa
Adalah rubrik yang menjadi wadah kreatifitas menulis rekan mahasiswa INKAFA. Berfungsi sebagai boost, layaknya dynamo dalam suatu motor, rubrik ini bertujuan menstimulasi nalar penulis dalam jiwa mahasiswa INKAFA untuk lebih kritis terhadap isu yang muncul.
 -----ooOoo-----

#12. Galeri Foto
 Jika ada rubrik yang berfungsi sebagai pemberi kabar atau laporan, maka rubrik yang satu ini memberikan kabar tersebut dalam bentuk grafik atau gambar/ foto yang secara otomatis membuktikan kebenaran adanya acara atau agenda yang direportasekan.
-----ooOoo-----

#13. An- Nisa
Adalah bingkai halaman dengan rubrik khusus yang berbicara lebar seputar problematika wanita. Baik berupa opini, ilmiah, tips dsb. Rubrik ini berdiri untuk memberikan perhatian ekstra terhadap teman pelajar putri Indonesia yang mengenyam pendidikan di Yaman.

Secara massif, rubrik ini mendukung tema yang diusung majalah, hanya saja melihat tema tersebut dengan beberapa tinjauan dari sudut pandang wanita. Redaksi yang bertanggungjawab atas an- Nisa tidak harus menulis namun dapat meminta teman putri untuk turut berkontribusi dalam menyusun an- Nisa, tiada lain bertujuan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mereka dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan.
-----ooOoo-----

#14. Galeri Insani dan Biografi
Sekilas melihat, dua rubrik ini memiliki kesamaan dalam memuat biografi seorang tokoh yang berpengaruh dan mempunyai peran penting mengenai permasalahan dari tema yang diangkat.

Perbedaannya, Galeri Insani menuliskan secara sederhana, riwayat seorang tokoh yang masih hidup dan dinilai aktif dalam dunia/ bidangnya. Adapun Biografi terfokus pada tokoh yang telah wafat, namun masih memiliki pengaruh,banyak meninggalkan pengaruh dan perubahan yang signifikan dalam bidang yang ia tekuni.
-----ooOoo-----

#15. Resensi
Pengantar Resensi.
Resensi  secara  bahasa artinya  “pertimbangan  atau perbincangan (tentang) sebuah  buku” (WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1984:821). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku.

Berisi penilaian tentang kelebihan atau kekurangan sebuah buku, menarik-tidaknya tema dan isi buku itu, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli. Selain resensi buku, ada pula resensi film dan resensi pementasan drama.

Penulis resensi disebut resensator (peresensi). M.L. Stein (1993:80) menyebut penulis resensi sebagai pengkritik (kritikus). Pendapat mereka, kata Stein, adalah penting karena kadang-kadang mereka dapat menilai apakah sebuah buku akan mencapai keberhasilan atau sebaliknya.

Struktur tulisan:
(1) Pendahuluan –berisi informasi objektif atau identitas  buku, meliputi  judul, penulis,  penerbit dan tahun terbitnya,  jumlah halaman, dan –bila perlu– harga.
(2) Isi –ulasan tentang  tema  atau judul buku, paparan singkat isi buku (mengacu kepada daftar  isi) atau gambaran tentang keseluruhan isi buku,  dan informasi tentang latar belakang serta tujuan penulisan buku tersebut. Diulas pula tentang gaya penulisan, perbandingan buku itu dengan buku bertema sama karangan penulis lain  atau  buku karangan penulis yang sama dengan tema lain.
(3) Penutup –peresensi  menilai bobot (kualitas) isi  buku tersebut secara keseluruhan, menilai kelebihan atau  kekurangan buku tersebut, memberi kritik atau saran kepada penulis dan penerbitnya (misalnya menyangkut cover, judul, editing), serta memberi pertimbangan kepada pemba­ca   tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki/dibeli.

Mengenal Resensi lebih dalam.
 Menulis resensi merupakan proses menuangkan atau memaparkan nilai sebuah hasil karya atau buku berdasarkan tataan tertentu. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pertimbangan baik-buruknya, cermat-cerobohnya, benar-salahnya, kuat-lemahnya, dan manfaat-mubazirnya suatu topik buku (Saryono, 1997:54).

Pada dasarnya, keterampilan menulis resensi tidak datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Selain itu, menulis resensi merupakan suatu proses perkembangan. Seperti halnya, dengan kegiatan menulis pada umumnya, menulis resensi menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, dan keterampilan- keterampilan khusus, serta pengajaran langsung menjadi seorang peresensi.

Dalam menulis resensi, peresensi perlu memperhatikan pola tulisan resensi. Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu meringkas, menjabarkan, dan mengulas. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas.Menjabarkan berarti mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. Bila perlu bagian-bagian yang mendukung uraian dikutip.

Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut:
(1) isi pernyataan atau materi buku sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diinterpretasikan,
(2) organisasi atau kerangka buku,
(3) bahasa,
(4) kesalahan cetak,
(5) komparasi dengan buku-buku sejenis, baik karya pengarang sendiri maupun pengarang lain, dan
(6) menilai, mencakup kesan peresensi terhadap buku terutama keunggulan dan kelemahan buku (Samad, 1997:5—6).

Hakikat Resensi.
 Dunia perbukuan di tanah air semakin marak pada tahun-tahun terakhir. Para penulis, baik yang sudah profesional maupun pemula, berlomba-lomba untuk mengirimkan tulisannya ke penerbit.Beberapa penerbit pun tidak segan-segan untuk mengumumkan secara terbuka akan kebutuhannya terhadap naskah. Perkembangan aktivitas perbukuan pun dibarengi dengan perkembangan media massa.

Media massa berani memberikan ruang untuk para pembaca yang ingin menuangkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Hal ini dibuktikan dengan adanya kolom surat pembaca, artikel, dan opini untuk edisi harian. Sedangkan tiap minggu tersedia kolom cerpen, humor, dan resensi. Hal ini tentunya merupakan pertanda budaya menulis di Indonesia mulai tumbuh dan berkembang.

Akan tetapi, perkembangan budaya menulis di tanah air belum sepenuhnya dibarengi dengan budaya membaca. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahui dan memahami pentingnya membaca. Hal ini seolah menjadi dua sisi mata uang. Namun, dari sudut pandang lain akan menjadi sebuah simbiosis mutualisme antara budaya menulis dengan budaya membaca.

Mengapa bisa dikatakan seperti itu? Dunia perbukuan yang ramai memberi peluang banyaknya buku yang diterbitkan dengan tema serupa. Hal tersebut akan mengakibatkan masyarakat pembaca kebingungan untuk membeli dan membaca buku-buku tersebut. Di sinilah letak hubungan yang saling menguntungkan tersebut. Para penulis yang peduli dengan keadaan ini berusaha untuk memecahkan masalah tersebut dengan menyusun resensi. Bentuk tulisan resensi akan sangat membantu para pembaca yang kebingungan ingin memilih, membeli, atau sekedar membaca buku-buku yang terbit tersebut.

Resensi merupakan salah satu bentuk tulisan jurnalistik yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memberi pertimbangan kepada pembaca mengenai sebuah buku yang baru diterbitkan. Secara sederhana, resensi dapat dianggap sebagai bentuk tulisan yang merupakan perpaduan antara ringkasan dan ikhtisar berisi penilaian, ringkasan isi buku, pembahasan, atau kritik terhadap buku tersebut. Bentuk tulisan ini bergerak di subyektivitas peresensinya dengan bekal pengetahuan yang dimilikinya tentang bidang itu. Resensi memiliki bagian-bagian penting di dalamnya, diantaranya judul resensi, identitas buku, bagian pembuka resensi yang memaparkan kepengarangan, tema, golongan buku, isi atau tubuh resensi yang memaparkan ikhtisar, ulasan serta kutipan, dan kelemahan juga kelebihan buku, dan bagian penutup.

Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere yang artinya melihat kembali, menimbang atau menilai. Arti yang sama untuk istilah tersebut dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review, sedangkan dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie. Tiga istilah tersebut mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas sebuah buku.

Merujuk pada pengertian secara istilah tersebut, WJS. Poerwadarminta (dalam Romli, 2003:75) mendefinisikan resensi secara bahasa sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut, menarik-tidaknya tema dan isi buku, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli.

Perbincangan buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah. Pendapat ini diperkuat oleh Samad (1997:1) yang menyatakan bahwa tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengritik buku. Pendapat yang berbeda diungkapkan oleh Saryono (1997:56) mengenai definisi resensi, yaitu sebuah tulisan berupa esai dan bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku.

Isinya adalah laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya, kuat-lemahnya, bermanfaat-tidaknya , benar-salahnya, argumentatif- tidaknya buku tersebut. Tulisan tersebut didukung dengan ilustrasi buku yang diresensi, baik berupa foto buku atau foto copi sampul buku.

Dari beberapa pendapat di atas mengenai definisi resensi, dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu karangan atau tulisan yang mencakup judul resensi, identitas buku, pembukaan dengan memaparkan kepengarangan, tema, golongan buku, isi atau tubuh resensi yang memaparkan ikhtisar, ulasan serta kutipan, dan kelemahan juga kelebihan buku, dan penutup kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca, dimiliki, atau dibeli.

Lebih jauh menyelami Resensi.
Tindakan meresensi mengandung “memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi pertunjukan, membahas, dan mengkritiknya.” Dalam buku Bahasa dan Sastra Indonesia (yang ditulis Euis Sulastri dkk) Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda,  resentie, yang berarti kupasan atau pembahasan. Jadi, pengertian resensi adalah kupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah.

Pada Kamus Sinonim Bahasa Indonesia disebutkan bahwa resensi adalah pertimbangan, pembicaraan, atau ulasan buku. Akhir-akhir ini, resensi buku lebih dikenal dengan istilah  timbangan buku.

Apa tujuan Resensi Buku?
Tujuan resensi adalah memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku, apakah ada hal yang baru dan penting atau hanya sekadar mengubah buku yang sudah ada. Kelebihan dan kekurangan buku adalah objek resensi, tetapi pengungkapannya haruslah merupakan penilaian objektif dan bukan menurut selera pribadi si pembuat resensi.

Umumnya, di akhir ringkasan terdapat nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.Sebelum membuat resensi, resensator harus membaca buku itu terlebih dahulu. Sebaiknya, resensator memiliki pengetahuan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan isi buku yang akan diresensi. Ada beberapa syarat untuk meresensi (membuat resensi) buku.
(1).      Ada data buku, meliputi nama pengarang, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.
(2).      Pendahuluannya berisi perbandingan dengan karya sebelumnya, biografi pengarang, atau hal yang berhubungan            dengan tema atau isi.
(3).      Ada ulasan singkat terhadap buku tersebut.
(4).      Harus bermanfaat dan kepada siapa manfaat itu ditujukan.

Cara Menulis Resensi NonSastra 
Anda tentu sudah pernah membuat sebuah ringkasan, baik itu ringkasan artikel atau ringkasan buku. Tahukah Anda bahwa dengan membuat ringkasan, Anda sudah mengawali membuat sebuah resensi.Resensi dibuat untuk memberi penilaian atas suatu buku, film, atau karya seni yang lain untuk memberitahu orang lain apakah hal yang diresensi tersebut layak atau tidak untuk dibaca, ditonton, atau didengar, dll.

Resensi bersifat informatif, tidak berisi suatu kritikan yang mendalam atau penilaian tentang bermutu atau tidaknya suatu karya cipta tertentu. Meskipun bersifat informatif resensi juga bukan iklan tentang buku baru.Berikut ini disajikan sebuah resensi. Bacalah resensi tersebut dengan saksama!

Bergerilya Melawan Lupa Bersama Munir
Judul Buku : Munir: Sebuah Kitab Melawan Lupa
Editor : Jaleswari Pramodhawardani dan Andi Windjajanto
Penerbit : Mizan, Bandung, Cetakan Pertama, Desember 2004
Tebal : iix + 545 halaman

"Bangsa Indonesia sering dituduh sebagai bangsa pelupa. Lupa atas dosa-dosa masa lalu, kekerasan-kekerasan masa lalu, dan berbagai penyimpangan masa lalu. Melalui buku ini, pembaca diajak berjuang melawan lupa, karena seperti yang dikatakan oleh Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Salah satu anak bangsa yang tidak pernah jenuh mengingatkan kita semua agar tidak pelupa adalah (almarhum) Munir. Dengan sikap dan perjuangannya, Munir mencoba mempertahankan ingatan kita dan secara bersamaan juga melakukan perlawanan terhadap lupa. Orang asal kota Malang yang termasyhur itu bukanlah seorang pejabat tinggi atau ketua parpol dari negara ini. Ia hanyalah seorang berperawakan kecil lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dengan............................................. ( Lihat Buku BSE )".

Unsur-unsur yang harus dimuat dan harus Anda perhatikan dalam resensi:
(1). Judul resensi, bisa menggambarkan keseluruhan isi buku.
(2). Data buku atau identitas buku terdiri atas: judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, cetakan, dan jumlah halaman.
(3). Pendahuluan, dapat berisi perbandingan dengan karya-karya sebelumnya, perbandingan dengan buku yang berisi masalah sejenis, biografi pengarang, dan hal yang berhubungan dengan tema atau berhubungan dengan isi.
(4). Sinopsis atau ringkasan isi buku; untuk mengetahui secara singkat tentang isi buku yang diresensi. Bisa juga dikutip bagian-bagian penting yang dianggap menarik.
(5). Ulasan singkat terhadap buku yang diresensi, kekurangan dan kelebihannya, dapat dilihat dari segi: fisik buku, misal penggunaan kertas, penjilidan, pengetikan;isi buku; penggunaan bahasa; dll.
(6). Manfaat dan sasaran pembaca buku.
-----ooOoo-----

#16. Bahasa
Adalah rubrik yang mempresentasikan suatu masalah dalam sebuah tulisan yang menggunakan bahasa asing, baik bahasa Arab atau bahasa Inggris sebagai bahan pokok penulisan. Adanya rubric ini adalah sebagai suatu pembuktian kapabilitas pelajar Indonesia di Yaman, bahwa mereka tidak hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa asing yang baik secara lisan, namun juga mampu menuangkan ide dan opininya secara tekstual.

#17. Bilik Ma'had
Dimanapun dan kapanpun, eksistensi institusi pendidikan Islam tidak boleh dilupakan karena besar dan pentingnya peranan mereka dalam lika- liku peradaban manusia. Untuk menegaskan hal tersebut seraya menanamkan pemahaman serta menambahkan pengetahuan maka rubric ini berdiri. Rubrik yang memaparkan sejarah singkat, proses perjalanan dan kemajuan, rangkaian aktivitas, warna pengabdian, corak asal pelajar dan metode pengajaran dan kepemimpinan suatu Ma'had/ Institut pendidikan Islam yang ada di Yaman.
-----ooOoo-----

#18. Catatan Akhir
Bila ada salam pembuka, tentu dapat ditemukan salam penutup. Sama halnya dengan catatan pembuka dalam majalah yang berupa Editorial, catatan akhir adalah catatan pamungkas yang secara paripurna menutup pembahasan tema dalam majalah dengan permasalahan lain yang juga berkaitan dengan tema yang diusung.

Dilihat dari judul, tentu akan berbeda dengan apa yang terkandung dalam sajian utama, bukan berarti melupakan, namun menyisipkan apa yang telah dibahas pada sajian utama, dengan kemasan permasalahan dan sebuah tawaran solusi yang baru.
-----ooOoo-----

#19. Bingkai Kata
Sebuah rubrik yang terpusatkan pada pembahasan pernak- pernik sastra , social dan budaya. Termasuk di dalamnya adalah Puisi, Mutiara Kata, Sajak Motivatif dan kisah Inspiratif, Cerita Pendek, Cerita Bersambung, Cerita Bergambar, Karikatur, Sajian Khusus pengetahuan Budaya dan Sastra, dll.
-----ooOoo-----

##Ekstra Insights (Wawasan Ekstra)
 1). Artikel
Karya tulis lengkap dalam suatu majalah,  surat kabar dsb.

Pengantar:
Masyarakat luas menganggap semua tulisan di media cetak (Koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter) sebagai artikel. Dalam dunia jurnalistik, biasanya artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu. Tehnik penulisan artikel di dunia jurnalistik lazimnya menggunakan tehnik deduktif – induktif atau sebaliknya.

Selain menganggap semua tulisan di media cetak sebagai artikel, biasanya masyarakat juga tidak bisa membedakan antara opini, kolom dan artikel.  Padahal ketiga jenis tulisan ini berbeda. Opini biasanya lebih mengutamakan pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis. Sementara kolom adalah artikel, opini, esai atau tulisan lain oleh penulis tetap, yang diberi ruang (rubrik) yang tetap pula.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang arti artikel, berikut ini adalah beberapa definisi dan pengertian artikel.
a). Artikel adalah karya tulis lengkap di majalah atau surat kabar. Artikel dalam surat kabar biasanya membahas suatu hal secara terperinci.
b). Artikel adalah tulisan pendek yang berisi tentang segala hal seperti pengetahuan, pendidikan,computer, bisnis dan sebagainya.
c). Artikel adalah salah satu bentuk tulisan nonfiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis dan opini penulisnya.
d). Artikel adalah karya tulis lengkap yang dimuat di Koran, majalah atau internet. Misal, bila kita menulis tentang tips membina persahabatan dan dimuat di Koran atau media lainnya, maka tulisan ini dapat disebut dengan artikel.
e). Menurut Ichtiar Baru, artikel adalah karangan prosa dalam media massa yang membahas pokok masalah secara lugas, sehingga yang terpenting  dalam sebuah artikel adalah isi yang benar dan aktual, susunannya rapi dan hemat dengan kata- kata.
f). Dalam The America Heritage Desk Dictionary dikatakan bahwa artikel adalah bagian tulisan non fiksi yang berbentuk bebas, bagian dari penerbitan seperti laporan dan esai.
g). Dalam Longman Pitman Office Dictionary dikatakan bahwa artikel adalah sebuah tulisan prosa non fiksi berbentuk biasa dan bagian bebas dari sebuah majalah, Koran dan lain- lain.
h). Dalam Webster CollegiateThesaurus diterangkan bahwa atikel adalah karangan, catatan, kritik, manifest, reportase,  keputusan, pelajaran dan survei.
-----ooOoo-----

2). Feature
Feature  (karangan khas) adalah laporan jurnalistik bergaya sastra (gaya penulisan karya fiksi seperti cerpen) yang menuturkan peristiwa. Isinya penonjolan segi (angle) tertentu dalam sebuah peristiwa, biasanya unsur yang mengandung segi human interest, yakni memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi —keharuan, simpati, kegembiraan, atau bahkan amarah atau
kejengkelan.

Mengedepankan unsur hiburan ketimbang informasi.  Biasanya menggunakan “kata berona” (colorful word) untuk menambah daya tulisan. Jenis-jenis feature antara lain feature berita (news feature), feature artikel (article feature), tips (how to do it feature), feature biografi, feature perjalanan atau petualangan (catatan perjalanan),dan sebagainya.
-----ooOoo-----

3). Esai
Esai (essay) artinya (1) karangan, esei (sastra) dan (2) skripsi.

Pengantar.
KBBI mendefinisikan esai sebagai “karangan prosa (karangan bebas) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya”. Esai dikenal di tiga dunia: jurnalistik, akademis, dan sastra/seni.
a). Dalam konteks jurnalistik, esai adalah tulisan pendek yang biasanya berisi pandangan penulis tentang subjek tertentu.
b). Dalam konteks akademis, esai diartikan sebagai “komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu”.

Struktur tulisan esai akademis atau sistematika penulisannya dibagi menjadi tiga bagian:
(1) Pendahuluan (berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi),
(2) Subjek bahasan dan pengantar tentang subjek),
(3) Tubuh atau isi/pembahasan (menyajikan seluruh informasi tentang subjek), dan
(4) Penutup berupa kesimpulan (konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subjek).

Bentuk esai dalam konteks akademis dikenal sebagai “esai formal” yang sering dipergunakan para pelajar, mahasiswa, dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Di dunia sastra atau seni, esai adalah karya sastra berupa tulisan pendek berisi tinjauan subjektif penulisnya atas suatu masalah di bidang kesusastraan dan kesenian. Esai adalah tulisan berisi ulasan tentang sebuah karya sastra dan seni.  Sedikitnya ada tiga jenis esai: narastif, deskriptif, dan persuasif.
-----ooOoo-----

4). Tulisan Ilmiah
Tulisan ilmiah dikenal sebagai “tulisan akademis” (academic writing). Memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis, diikuti “kerangka berpikir” untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas.  Jenis tulisan ilmiah: disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.
-----ooOoo-----

5). Tulisan Ilmiah Populer
Ilmiah populer yaitu tulisan ilmiah yang ditulis dengan gaya penyajian artikel populer atau gaya jurnalistik yang mengedepankan unsur informasi, keumuman, dan mudah dimengerti.  Tulisan ilmiah populer bisa juga diartikan sebagai tulisan ilmiah yang disusun dengan menggunakan bahasa jurnalistik (language of mass communication).

Prinsipnya, menulis artikel ilmiah populer sama dengan menulis artikel populer biasa –proses kerja intelektual yang membutuhkan keahlian khusus (writing technique), latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, waktu, dan… kesabaran.

Seperti halnya semua tulisan, artikel ilmiah populer  juga menjadikan komunikasi sebagai tujuan utama.  Perbedaan utama artikel biasa dengan artikel ilmiah populer utamanya dalam hal dukungan fakta dan teori. Dalam artikel biasa, penulis tidak dituntut menyertakan fakta atau teori sebagai pendukung argumentasi atau opininya.

Karakter utama artikel ilmiah populer adalah opini subjektif penulis disertai fakta-data (biasanya hasil riset) dan teori pendukung tentang suatu masalah atau peristiwa. Cara dan struktur penulisan sama dengan penulisan artikel opini.
-----ooOoo-----

6). Prosa
Adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai tidak terikat oleh Rima, Ritma, Jumlah baris dan sebagainya.
Adapun unsur- unsur instrik dalam prosa adalah:
(1). Tema. Adalah tentang apa prosa tersebut berbicara.
(2). Amanat atau pesan. Adalah nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.
(3). Plot atau alur. Adalah rangkaian peristiwa yang membentuk suatu cerita.
(4). Perwatakan atau karakteristik atau penokohan.  Adalah cara- cara pengarang menggambarkan watak pelaku.
(5). Sudut pandang. Adalah cara pengarang menempatkan diri. Sudut pandang orang pertama adalah pengarang sebagai pelaku. Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang tidak menjadi pelaku.
(6). Latar atau setting. Adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana  berlangsungnya peristiwa.
(7). Gaya bahasa. Adalah corak pemakaian bahasa. Fiksi. Rubrik. Artikel koseptual.
-----ooOoo-----

7). Puisi
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang berarti penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan –poem. Mengenai kata –Poet, Coulter menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta.

Definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair  romantic Inggris sebagai berikut;
a). Samuel Taylor Colerid mengemukakan puisi adalah  kata- kata yang terindah dalam susunan yang terindah. Penyair memilih kata yang setepat- tepatnya dan disusun dengan sebaik- baiknya. Misalnya, seimbang dan simetris antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat hubungannya dan sebagainya.
b). Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musical. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi- bunyi yang merdu seperti music dalam puisinya. kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti  music, yaitu dengan menggunakan orchestra bunyi.
c). Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah penyataan perasaan yang imajinatif, perasaan yang direkakan atau diangankan.
d). Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan  perasaan yang bercampur baur.

Dari definisi- definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shanon Ahmad menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis- garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur- unsur itu berupa imajinasi, emosi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. 
 -----ooOoo-----

Terima kasih berkenan meluangkan waktu untuk mampir melihat dan membaca ^^v
Feel Free untuk mencopy dan membagikannya pada teman dekat anda ..  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar