Selasa, 30 Oktober 2012

Antara Mencintai dan Dicintai

All about Love(2)
Dalam Bingkai Pacaran dan Persahabatan
Sebuah Catatan Sederhana
Oleh Ismail Sunni Muhammad


Judul yang terkesan jadul banget memang. Tapi tak mengapa membahasnya. Selain menggairahkan juga menambah semangat. Semangat apa ya? .. Membicarakan cinta memang menarik. Apalagi buat mereka dan kita, remaja ijo yang masih (atau sudah) mencicipi virus merah jambu ini.

Sebelum kita menelusuri lebih dalam untaian kisah cinta ini, akan sangat baik bila kita memahami dan mengerti makna cinta, mencinta dan dicinta. Kita juga dapat mengurai dan mengungkapkan bias pemisah antara dua kata yang berlawanan namun satu, Pacaran dan Persahabatan.

Baik. Mengapa penulis mengambil judul ini? Alasan pertama adalah untuk berbagi. Berbagi apa saja, pengalaman, rasa, ilmu, wawasan, pendapat, ide, dll. Ketika muatan harapan untuk berbagi secara face to face tidaklah terwujud, setidaknya goresan tinta bisa menggantikannya.


Alasan kedua, adalah sesuatu yang memotivasi penulis untuk menulis. Tentu, akan terasa sangat mudah menulis apa yang kita sukai dan kuasai. Menulis bak berbicara. Semua akan tergores panjang tiada henti, mengalirkan apa yang ada di otak dan hati. Bersatu menjadi sebuah rangkaian kata rapi, dalam susunan kalimat unik dengan paragraf yang tertata mengisi tiap bilah kertas.


Dan salah satu hal yang penulis adalah membicarakan cinta, sekalipun terkadang penulis tidak selalu berkuasa atasnya. Semoga saja 2 alasan di atas bisa menjadi alasan kamu untuk tetap membaca catatan sederhana ini. Catatan yang semoga, juga bisa meletupkan emosimu, memberikan sedikit buncahan semangat untuk berkarya.

Cinta. Apakaha cinta? Apa yang kamu tau tentang cinta? Mengapa harus cinta? Sejumlah pertanyaan di atas membuka catatan kita kali ini. Kata cinta tentu telah sangat familiar di telinga kita. Suatu kata yang lebih dari sekedar kata. Kata yang mengandung mukjizat. Kata yang dapat membunuh dan menghidupkan.

Kita pasti mengetahui, begitu banyak mereka yang telah mengartikan cinta, menafsirinya dengan macam pola pikir dan warna interpretasi yang berbeda. Corak cinta yang beraneka telah tersebar dalam berbagai lembar sejarah. Dari nuansa klasik hingga megah mewah. Dari berbagai negara, terlahir kisah yang terukir abadi dalam lembayung hati mereka, para pujangga dan pecinta.

Cinta takkan pernah lepas dari kata mencintai dan dicintai. Satu sisi berada pada titik aktif dan sisi lainnya pada  titik pasif. Sekalipun diambil dari satu kata dasar, keduanya, yakni mencintai dan dicintai memiliki makna tersendiri. Karena cinta memuat luapan kata sarat makna yang tak terhingga, tak bertepi, tak dapat dibatasi oleh asa dan rasa.

Mencintai membuatmu merasakan energi ekstra mengaliri tiap aliran darah dalam tubuhmu. Segalanya terasa begitu ringan dan mudah ketika kamu mendapati dirimu ingin membahagiakan ia yang kamu cintai. Seberat apapun. Semustahil apapun itu. Kau akan senantiasa mencoba untuk mewujudkannya. Dengan  hanya berharap senyum merekah menghiasi bibir tipisnya.  Walau hanya dibalas dengan pujian kecil. Mencintai membuat kau takut mengecewakannya. Takut dia tidak menyukai dan menjauhimu. Takut terjadi sesuatu yang berbahaya padanya.                             

Mencintai membuatmu betah duduk di atas kursi, sibuk memandang foto dan menjawab smsnya. Berbicara dan berpikir hanya tentang dia. Dan sungguh mencintai dapat membuatmu lupa akan dunia dan mereka yang di sekitarmu, ketika cinta telah membuatmu buta tentunya.

Berbeda dengan dicintai. Dicintai membuatmu merasakan perhatian ekstra dari ia yang mencintaimu. Terkadang membuatmu nyaman atau sebaliknya kesal dan susah. Nyaman, ketika kamu merasa nikmat dengan layanan yang diberikan oleh ia yang mencintaimu. Bisa juga kamu merasa nyaman, karena dia selalu ada di saat kamu membutuhkannya, dia bisa membantu kamu mewujudkan apa yang kamu ingin dan citakan, tanpa upah sekalipun. Dan sungguh berbahaya sekali apabila kamu mencintai cewek/ cowok ekspoitatif. Tipe orang yang ingin menguras apa yang dimiliki kekasihnya,apapun itu yang sekiranya menguntungkan baginya.

Kesal dan susah muncul ketika ada perasaan tidak ingin merepotkan orang lain untuk mewujudkan mimpi dan keinginan kita. Tentu dalam batasan kesadaran kita sebagai makhluk social. Kesal karena seakan cinta kita seharga dengan barang/ pernak- pernik/ hadiah yang dia berikan. Terkadang ada pula orang yang merasa risih dengan cara kita mencintainya. Kesal karena dengan dicintai justru membatasi ruang gerak dan bicaranya, seakan dia hanya milik dia yang mencintainya. Susah karena dengan dicintai hanya semakin memperburuk kehidupan pribadi dengan teman atau keluarganya.

Dari mencintai dan dicintai, marilah kita beralih pada pacaran dan persahabatan. Pacaran, menurut penulis, layaknya pernikahan yang tidak sah bin ilegal. Apalagi di zaman seperti ini. Menembak untuk dijadikan kekasih layaknya melamar untuk dijadikan istri. Hanya berlandaskan tekanan lingkungan untuk mendapatkan pengakuan dan jawaban serta kesenangan semu. Diawali dengan ikrar akan selalu bersama, namun banyak yang berakhir dengan tangis duka dan kecewa. Pacaran membuat cowok/ cewek layaknya buku dalam toko buku yang telah dibuka berulang kali dengan pengunjung- pengunjung toko tersebut. Maka, ketika kamu diberikan pilihan, mana yang akan kamu pilih, buku yang masih bersampul rapi menarik dengan buku yang serupa namun tidak lagi bersampul, lucek dan kusut?

Persahabatan adalah garis takdir yang begitu indah. Di dalamnya mengalir tawa dan tangis, senang dan duka, kebersamaan, saling berbagi dan kenangan. Sekalipun terkadang sahabat menyakiti, terkadang ia pula yang menghibur kita di satu waktu yang lain. Bagaikan hutan dan hujan. Saling melengkapi, mengisi dan mewarnai. Dan kerap kali, dari persahabatan timbul hubungan cinta, yang kerap kali dinamakan dengan pacaran. Seseorang sahabat akan selalu mencintai selama mereka tidak menjadi pacar. Berbeda dengan pacar sulit untuk menjadi sahabat ketika sudah tidak saling mencintai.

Hubungan persahabatan akan ternoda, baik dengan rindu, dosa, sedih, tersiksa yang tentu akan membawa pengaruh yang kuat bagi kedua belah pihak. Saat mereka telah dewasa, menanam usia, menghidupi anak dan mertua. Hubungan lama tertentu bisa mengganggu ketentraman keluarga. Mereka yang telah berpacaran belum tentu akan menikah. Bila dipersentase, 90% dari mereka tidak akan menikah. Cowok hanya akan membual menenangkan akan menikahi dan cewek hanya mengangguk menenggelamkan yakinnya yang mungil dalam lumpur kekhawatiran saat ia telah memberikan apapun yang dimilikinya pada kekasihnya.

Tanyalah kepada yang mereka berpacaran, akankah kamu benar- benar menikahi kekasihmu? Sadarkah bahwa kau hanya dijadikan bahan percobaan demi menikmati “indahnya” masa remaja?
Menikah tanpa janji menikahi, dengan semakin memperbaiki diri tanpa menjalin hubungan khusus dengan siapapun jauh lebih baik daripada berpacaran. Lebih bertanggung jawab dan meyakinkan. Tidak hanya dengan kata, namun dengan fakta dan usaha. What ‘bout you, Friends? .. .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar