Sabtu, 15 Juni 2013

Cinta, lebih baik diutarakan atau dipendam ya?

Catatan Harian


Setelah dibahas ribuan tahun, virus merah jambu ini masih tidak kelar-kelas selesai dan habis diperbincangkan. Dari berbagai sisi kehidupan dengan variasi kisahnya, mulai dari yang accepted traditional-personally hingga, internasional dan kontroversial. Entah, berapa pula posting cinta yang telah tertulis dan beranakpinak di Kompasiana ini. Dan saya harap tarian pena saya mampu menyegarkan kembali kebosanan anda menganalisa cinta.

Bermula dari kisah saya sendiri, pernah mencintai seorang gadis. Ketertarikan ini lahir dari kesamaan minat kami, hobi nyemil bahasa Inggris. Sekalipun, kami beda fakultas, dia Tarbiyah dan saya Dakwah. Beberapa kali bertemu, bagi saya, sudah cukup jadi obat rindu, akannya.

Hingga akhirnya saya melanjutkan studi saya di Yaman, hati saya masih sulit mengingkari kalau saya tidak mencintainya. Suara imut dan tawa renyahnya masih jelas terngiang di telinga saya. Seakan baru kemarin saya bercakap dengannya, padahal 3 tahun telah berlalu begitu saja. Tanpa ada kabar dan berita tentangnya. Dalam hati, saya bertanya, “Apakah ini kesalahan saya, karena tidak mengungkapkan perasaan saya dulu padanya?”

Mengawali, saya kutip semangat Mau Zedong, founding father Cina. Beliau berkata, If you want to know the taste of a pear, you must change the pear by eating it yourself. If you want to know the theory and methods of revolution, you must take part in revolution. All genuine knowledge originates in direct experience. Intinya, adalah anda harus menjadi bagian dari perubahan yang ingin anda lihat. Anda harus memperjuangkan sesuatu yang menjadi keinginan anda dan anda mencintainya.

Normalnya, seseorang tentu akan mengatakan isi perasaannya, pada seseorang yang dicintainya, mengikuti kaidah ushul fiqih, “al-ashl, baqoo’u ma kaana, ‘ala ma kana”. Karena itu adalah communication bridge, perantara bagaimana membuat si dia mengetahui apa yang kita inginkan dan rasakan. Manusiawi pula, bila anda mencintai seseorang, tentu ada dorongan untuk memilikinya. Lantas, apakah dengan tidak mengatakan perasaan kita, berarti kita tidak normal? Dan apakah dengan tidak adanya hasrat memiliki, seakan secara implisit menasbihkan bahwa diri kita tidak manusiawi?

Dari dua pertanyaan itulah, muncul pengecualian, betapa seseorang memiliki pertimbangan tertentu, mengapa ia lebih memilih menjaga dan memendam perasaannya. Adalah ragu, sebab pertama seseorang memendam perasaannya. Ragu pada dirinya dan pada orang yang dicintainya. Ragu, apakah rasa yang benar-benar bergelora dalam dadanya, telah resmi berlabel cinta? Ataukah sekedar perasaan sayang sementara atau kagum semata?
Ragu, apakah seseorang yang kita cintai, juga memiliki perasaan yang sama dengan kita? Bahkan ada probabilitas, apakah dengan memiliki perasaan yang sama, lantas dia mau menerima kita? Wanita itu, makhluk yang benar-benar mahir memberi jawaban yang tak terduga. Sulit ditebak? Benar, karena mereka menggunakan perasaan sebagai akal, beda dengan lelaki, yang menggunakan akal sebagai perasaan.
Teringat lelucon Ted, salah satu fanspage Twitter yang saya sukai, “Don’t try to understand women? Women understand women, and they hate each other”. ^_^
Kembali ke pembahasan, saudara. Ragu tahap kedua, apakah dirinya telah siap menerima dan melakukan konsekwensi dari perbuatannya? Memang, dengan berani mengutarakan “I love you” pada seseorang yang anda cinta, setidaknya cukup membuktikan bahwa anda bukan lelaki cemen bin pengecut. Tapi, itu tidak lantas menjadikan anda, lelaki yang bertanggungjawab dan trust-worthy. Itu lain masalah lagi.
Berapa banyak, lelaki yang pandai berkata cinta, di balik kekasihnya, begitu mahir mendua, bertiga atau bahkan berlima? Sebagai lelaki, saya bisa menebak, lagu favorit para wanita yang berpacaran saat bernyanyi di bawah shower adalah “mau dibawa kemana hubungan kita? Jika kau terus menunda-nunda, dan tak pernah nyatakan –nikah?” [re-edit dari cinta]. 
Karena ketika dia telah menerima penyataan cinta anda, dengan kata lain, dia benar-benar percaya bahwa anda dapat menjadi pendamping hidupnya yang reliable dan loyal [cinta monyet, tidak termasuk]. Anda tidak bisa bermain dengan perasaan. Sekali anda melukai, tak tahu adakah maaf terucap murni. Dan seandainya ada kata maaf, akan sangat sulit untuk percaya lagi.
Di sinilah, cinta memberikan definisi pengorbanan. Ketulusan anda diuji, mulai membagi waktu, mengolah tenaga, mencurahkan perhatian, dan harta. Di sini pula, cinta memberikan definisi keteguhan. Sampai mana, anda mampu mempertahankan bahtera hubungan anda berdua. Saat ini, kita bicara tentang prospek dan visi, bagaimana mencintai secara profesional. Karena profesional tidak terbatas bergerak pada lingkup bisnis saja, mencintai juga sebuah profesi yang butuh keahlian khusus untuk menjalankannya hingga tercapai long-live-love relationship. 
Titik ini yang akan menjadi penentu, apakah benar, anda seorang lelaki sejati? Yang berani merealisasikan janji. Titik ini pula yang akan membuat wanita mengamini kutipan bijaksana, “don’t marry a man, unless you would be proud to have a son exactly like him”. Dengan tetap tidak menuntut kesempurnaan pasangan kita, tentunya.
Pertimbangan ketiga, adalah ketika anda mengutarakan perasaaan anda padanya, hanya membuat keadaannya memburuk. Bukan berarti kita pesimis, tidak! Kita hanya mencoba realistis dan berpikir logis. Misalnya, sesorang yang anda cintai, sedang fokus menghafalkan al-Quran, atau terobsesi untuk terus berprestasi dalam studinya. Seandainya, anda mengutarakan perasaan anda, bukankah ada kemungkinan anda mengganggu konsentrasinya? Bila ia tidak menerima anda, bisa jadi ia kepikiran, bagaimana keadaan anda, apakah keputusannya benar/salah? Bila ia menerima anda, terpikir lagi, apa komitmen yang akan dijalin bersama? Tentu, ini juga akan memiliki side-effect pada diri anda sendiri. Menguras tenaga, perhatian dan waktu anda untuk suatu yang belum jelas manfaatnya. Pikirkan karir dan studi anda. Itu akan lebih bermakna, bukan?
Pada keadaan inilah, tidak memiliki dikatakan manusiawi. Atau dengan term lain, kita memiliki, tidak raga, namun dengan jiwa. “Ini demi kebaikanku dan dirinya”, setidaknya itulah yang anda bisikkan pada hati. Atau memang anda memiliki tendensi untuk lebih memilih menjadi secret admirernya. Dan inilah alasan mengapa saya lebih memilih memendam perasaan saya. “Toh, kalau sudah jodoh takkan kemana!”, kata abah saya. Cukup dengan membingkainya dalam puzzle memori, memeluknya dari kejauhan, dengan hangat doa.
Kesimpulannya, bila tidak ada pertimbangan-pertimbangan yang saya sebutkan di atas, menari-nari dalam benak anda, maka mengutarakan perasaan anda, adalah lebih baik. Siapkan mental anda. Berilah fifty-fifty pada optimis dan pesimis untuk diterima. Bila tidak diterima, akuilah dengan ksatria. Jadikan cermin, lahan evaluasi diri. Ambil positifnya. There’s still someone better you deserve to have. Jangan sampai mengikuti adagium, “Cinta ditolak, dukun bertindak”. Salam, lelaki sejati. ^_^


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar