Minggu, 16 Juni 2013

Mempresentasikan pidato dengan efektif

Seni berpidato: Intermediate level



Berbicara di depan publik adalah sebuah tantangan  tersendiri. Bahkan seorang orator atau presenter profesional manapun, pasti masih merasakan on-stage pressure, yang akrab kita sebut demam panggung. Tentu, dengan variasi kuadran yang berbeda bergantung pada how much jam terbang mereka. Karena, layaknya dokter yang sering menangani pasien, semakin ia sering ia menemukan masalah dan mempelajarinya, semakin terampil dan mumpuni pula cara ia mengatasi dan menanganinya.

Sesuai dengan definisinya, adalah satu cara mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan pada banyak orang. Pidato, adalah arus transformasi ide menjadi kristalisasi wacana yang eksploitatif [menarik massa], bombastis [menggemparkan massa], persuasif [mempengaruhi massa] dan konstruktif [membangun massa]. Oleh karena itu, butuh langkah yang ter-manage dengan apik dan sistematis untuk melakukannya.

Adalah yang berkesan, mampu mengobati, menggerakkan hati, menyemangatkan jiwa, membakar asa, patut dilabeli sebagai sebuah pidato yang efektif. Efektif, berarti tepat waktu, tepat daya dan tepat guna. Adalah karakter yang harus tersembul dalam jiwa seorang orator. Karena dengannya, ia akan bijak menyisir perhatian, selektif menggunakan bahasa, memadai dalam mengatur intonasi serta memilah diksi.

Berbicara di depan publik, lebih dari sekedar kata bicara dan publik. Ia adalah suatu seni, yang lebur dalam displin ilmu berorasi. Berkaitan dengan ilmiah, berarti tiap kata, anda nalar-logikan sesuai bahasa audiens yang ada, dengan penjabaran mengenai spesifik ilmu tertentu. 

Berikut ini, sebuah prosedural tips –yang semoga bermanfaat, untuk dijadikan pijakan observasi, dan proses mengasah diri serta latihan tiap hari.

~ Langkah pertama dan utama
adalah properly prepared [benar-benar mempersiapkan diri kamu]. Kaji konten pidato dengan mengkalkulasi respon subjektif dan objetif yang akan muncul darinya. Pastikan pula isi pidato kamu, worth-knowing, layak untuk diketahui. Saat kamu selesai menyelesaikan beberapa riset mengenai topik pidato kamu, buat diri kamu familiar dengan materi dasar pidato kamu.

Sebuah keharusan yang absolut, bahwa kamu musti menyampaikan hanya satu pokok pikiran utama. Keseluruhan isi dari pidato kamu akan membedah secara mendalam gagasan ini dari berbagai sisi. Jika kamu memiliki lebih dari satu ide, pastikan kamu menyisipkannya, seakan secara tidak sengaja, sekiranya pendengar kamu tidak terlalu memikirkannya [langkah preventif kaburnya ide utama presentasi dari titik fokus audiens].
Satu hal untuk mengetahui apakah kamu sudah memiliki pemahaman yang memadai atas subjek yang akan kamu presentasikan, atau tidak, adalah “apakah kamu memiliki sesi tanya jawab setelah berpidato dan mampu memberikan jawaban yang padat serta memuaskan untuk setiap pertanyaan yang mungkin muncul di permukaan?”

Sekalipun, bila kamu bertanya pada orator ulung, beberapa dari mereka akan menyarankan kamu, untuk jangan sekalipun pernah mengakhiri presentasi kamu dengan sesi tanya jawab [alasan mereka; ini mungkin mengurangi kesan penasaran pendengar yang sudah kadung tertarik dengan isi pidato kita]. Tetap camkan dalam benak, poin yang kita bahas saat ini adalah “seberapa baik kamu mengenal dan memahami subjek kamu?”

~ Langkah berikutnya, 
mulai mengorganisir hasil observasi dan komparasi kamu dalam rentetan skema yang logis. Skema yang logis di sini adalah konsep yang mengalir dalam benak audiens hingga menjadikan mereka tertarik, memahami, dan memiliki alasan mengapa harus bertahan untuk mendengarkan pidato kamu.  Mobilisasi poin-poin yang esensial dapat secara kontinyu mendukung ide utama yang kamu gagaskan. Terlebih dengan menambahkan bukti riil dan alasan yang realistis, juga merupakan bagian afirmatif dari proses persuasif!

Setelah menuntaskan langkah ini, kamu semakin dekat dengan entrance aktifasi pidato efektif. Sekarang, waktu untuk mempertimbangkan pola apa yang kamu pakai ketika akan berangkat berpresentasi di podium.

Tulis secara detil dan ringkas pembukaan dan penutup pidato kamu. Ini hanya langkah antisipatif, bahwa kamu telah mengetahui dengan baik bagaimana kamu memulai dan mengakhiri.

Nah, saat ini kamu sudah memiliki lampiran pembuka suasana, garis umum isi presentasi, dan kata penutup yang telah tertulis rapi. Mulailah melatih bagaimana kamu berpidato. Perkirakan apakah, kamu bisa menuntas-sampaikan pidato kamu, pas dengan waktu yang disediakan [bila alokasi waktu, pendek]. Atau apakah kamu sudah mempunyai materi yang cukup untuk menyeimbangi bingkai waktu yang diberikan [bila alokasi waktu, panjang].

~ Tahu tidak, 
audiens sangat suka mendengarkan kisah nyata yang memberikan inspirasi dan motivasi. Pada batas ini, kamu mulai membangun feeling dalam pidato kamu, sehingga pidato kamu terdengar lebih hidup dan merasuk. Tambahkan beberapa ilustrasi dan kisah humanis, dengan sedikit humor segar pada beberapa bagian pidato. Adanya ilustrasi akan membantu audiens merekam dengan mudah, apa yang berusaha kamu sampaikan. Setelah usai memberikan “bumbu” secukupnya, kembali berlatih, agar lebih sreg dan memastikan apakah timingnya sudah benar-benar akurat.

Semakin siap untuk memaparkan materi, ambil satu lembar kertas saja yang memfilter dan menjadi konklusi outline pidato kamu. Jika kamu terlalu banyak membawa catatan, akan menimbulkan tendensi untuk membaca atau menaruh banyak perhatian pada catatan kamu tsb.

~ Ingat! 
Bicaralah dan jangan membaca. Presentasikan materi kamu, bila kamu menghafalnya, seakan kamu tidak menghafalnya, layaknya percakapan sehari-hari yang tidak menuntutmu untuk berpikir lama, keras dan letih. Keraskan suara, sekiranya mereka yang paling jauh darimu masih dapat mendengarkan dengan baik dan jelas. Pastikan juga kamu memberikan kontak mata pada seluruh audiens. Eits, bukan berarti kamu harus memelototi mata tiap audiens, lakukan scanning eye contact, yakni menatap dan membaca dengan cepat perhatian seluruh audiens. Sehingga lahir komunikasi dua arah, antara kamu dengan audiens.

Berikan penutup dengan enerjik dan ramah, untuk menumbuhkan kesan menantang pada audiens [sehingga menjawab kembali salam penutup kamu] dan mengetahui seberapa dalam mereka merespon presentasi kamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar