Selasa, 04 Juni 2013

Menyerahkah kau pada dunia?

Sebuah Puisi [20]


Bahkan ketika hidup bertahta menitah dengan lalim kasar memaksa,
Tidak kau alihkan tatapmu mundur menyerahkan asa, memudarkan cita,
Rautan pelangi yang tergores membuka belaiannya melindungimu,
Kau terjatuh, dengan langkah yang memberat, kaki kaku yang bergerak lunglai lumpuh,
Mengganggu mereka yang menatapmu dalam intipan sinis penuh duri.

Semakin tenggelam, kau tersedak dalam gulita kecewa,
Nafasmu tersekat, tertusuk sesak oleh gravitasi cibir yang mengisi rongga duka,
Dimanakah pelita cahaya?
Keluhmu dengan hatimu tertutup debu lusuh,
Akalmu menggeliat kembali nyenyak, mengucap lemah, tiada daya,
Sekali saja, berdirilah kembali.

Perhatikan cipta tuhan dengan iman raksasa,
Sekarang adalah mula semua kisah,
Melebarkan bahumu yang menciut takut,
Karena dalam hadirmu, ada ruh yang tangguh, menempuh tiap kara dan bencana,
Maka duduklah, berdiam dari memecahkan cita, tatap lurus masa,
Berdiri kembali, eratkan genggamanku, menantang dunia.

Laksana melati bertemu teratai terbang di atas serpihan air danau Bakauhuni,
Beriring tenang, menunggu waktunya terlepas dari jeratan derita, menyatu dengan semesta,
Mandiri, layaknya awan yang menjanjikan hujan,
Bahkan ketika kau bersekongkol menyogok petir untuk bersembunyi,
Apalah dayamu, bila kau masih di bawah langit yang berkuasa,
Membasahi tiap butir khawatirmu,
Dengan manik manis cahaya, dan akan tiba saat kau bermuara.

Kepalamu yang merunduk malu,
Bukanlah salahmu, terjatuh dalam gundukan apatis dan kubang lesu,
Diamlah, hindari menggerutu,
Kenali, teliti dan rasakan, siapa dirimu dan untuk siapa sebenarnya,
Meski kau dan aku berbeda,
Layaknya singa dan tembaga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar