Sabtu, 02 April 2011

Langkah Radio (MY) MBS FM Go International

Oleh; Isyniê Sunni Sansån


Sejarah lahirnya MBS FM
MBS FM berdiri pada tahun 2006/2007 atas inisiatif dari mahasiswa-mahasiwi INKAFA Fakultas Dakwah angkatan pertama. Mereka memandang akan pentingnya peran dan pengaruh radio sebagai sarana penunjang keahlian berdakwah demi mencetak kader-kader dakwah yang benar-benar siap dan kafi (mumpuni) untuk diturunkan di medium komunikasi apapun.

Alasan kedua adalah menjamurnya radio komunitas baik besar (dalam artian memiliki jangkauan luas) atau sebaliknya di berbagai institusi pendidikan terutama dalam ranah kampus ataupun universitas baik formal maupun non formal baik swasta ataupun negeri. Mereka sangat berkeinginan untuk merealisasikan eksisnya radio komunitas di INKAFA (Institut Keislaman Abdullah Faqih). Dengan berbekal kesungguhan, tekad yang mantap, serta dukungan dan arahan dari bapak dekan Fakultas Dakwah yakni oleh H. Ainul Heri Abbas, alhamdulillah akhirnya radio Suara Mambaus Sholihin FM atau S-MBS FM (nama Radio MBS FM dahulu) bisa terwujudkan. Itupun belum berupa radio seutuhnya karena masih menyewa dari radio komunitas lain yang tidak lagi memakai mesin radionya.

Penyewaan mesin radio yang berkekuatan 92,7 Mhz tersebut menghabiskan dana sekitar 700 sampai 800 ribu setiap 2 bulan atau 4 bulannya, dana tersebut diambilkan dari iuran mahasiswa/i fakultas dakwah. Sayangnya, penyewaan mesin radio yang daya jangkaunya mencapai sekitar 10 kilometer itu hanya bertahan selama 5 sampai 6 bulanan karena masalah klasik, minimnya dana. Sempat terjadi kevakuman dalam gerak roda radio MBS FM beberapa bulan, hingga pada pertengahan akhir tahun 2007, generasi kedua mahasiswa fakultas dakwah seperti Abdur Rahman, Umar syarifuddin, Zaenuri, Bahrul Ulum dan kawan-kawan optimis membangkitkan mati suri radio S-MBS FM dan berencana untuk membeli peralatan radio sendiri.

Pendekatan-pendekatan dilakukan kepada adik-adik kelas dalam penggalangan dana dan penyatuan visi. Konsolidasi tercapai, kemudian datang informasi mengenai adanya pembuat radio di Balong Panggang, pada maret 2008, mesin baru radio S-MBS FM meliputi mixer dan alat pemancarnya dengan harga 12 juta itu datang, yang didanai langsung oleh beliau H. Ainul Heri Abbas, itu belum termasuk komputer, michropone serta perangkat elektronik instruktif lainnya. Dan akhirnya, radio amatir berkekuatan 100 watt dengan jarak siar 10 kilometer bisa eksis hingga hari ulang tahunnya yang kedua. Sejak saat itu pula S-MBS FM berganti nama menjadi MBS-FM.

Perangkat broadcasting yang digunakan saat itu pun bisa dikatakan sangat sederhana, hanya mixer, exciter dan booster saja, exciter berfungsi sebagai pembuka suara di udara sehingga suara tersebut bisa didengarkan di radio, sedangkan booster berfungsi sebagai penyuplai watt yang membantu exciter agar bisa meluaskan daya jangkau siaran dari radio. Sedangkan mixer berfungsi sebagai alat pengolah suara yang bersumber dari michrophone dan music player.

Berbeda dengan radio komunitas lainnya, radio MBS FM tidak memiliki sponsor sama sekali, dari awal muncul hingga sekarang, karena memang Hadratus Syaikh tidak memberikan izin untuk mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan melalui sponsorisasi via radio MBS FM. tak hanya masalah sponsor, referensi atau materi dan susunan acara bisa dikatakan sangat berbeda dengan radio dakwah lainnya, komposisi lagu yang ditampilkan mayoritas berbau islami seperti sholawat banjari khas pesantren, untuk lagu pop sendiri hanya memiliki waktu 3 jam, 1 jam di pagi hari, 2 jam di malamnya.

Dalam sumber susunan acara, crew MBS FM mengambilnya dari Persada Fm, radio di Pesantren Kyai Ghofur, Sunan Drajat di Paciran, namun tidak secara keseluruhan, radio MBS FM lebih kaya akan unsur islami dengan adanya pengajian live dari Hadratus Syaikh, Ust. H. Zainul Arifin dan diskusi ilmiah dengan narasumber mengenai masalah aqidah dan syari’ah.

Halangan dan Rintangan
Di antara batu terjal yang dihadapi oleh crew MBS FM dahulu adalah proses legalisasi pada pemerintah daerah. Bermula ketika Ust. H. Ainul Heri Abbas sowan pada Hadratus Syeikh untuk meminta saran, lalu beliau Hadratus Syaikh berkata” Bas, nanti kalau perizinannya sudah dapat, akan saya belikan mesin baru.” Mendapat suntikan motivasi dari Hadratus Syaikh, Ust. H. Ainul Heri Abbas segera menginstruksikan akhi Mahbub dan akhi Fahri untuk mengurus perizinan radio komunitas dari Komisi Penyiaran Daerah yang berlokasi di Waru, Sidoarjo dekat terminal Bungurasih.

Sambutan yang diberikan petugas di sana, ternyata tidaklah sesuai dengan yang diharapkan, justru menurunkan mental dua utusan Radio MBS FM yang ingin melegalkan eksistensi radio MBS FM. Mereka hanya disambut di serambi kantor saja, bahkan disarankan untuk segera pulang karena kedatangan mereka dinilai tidak akan berarti apa-apa, kesan melecehkann tampak terlihat dari cara petugas terkait menyambut mereka, untuk sekedar bertanya prosedural perizinan saja pun tidak diperkenankan, bahkan ditertawakan, seraya berkata “mas, mas, percuma sampeyan datang kesini, radio swasta yang mendaftar pada tahun 2007 saja belum mendapat legalisasi, sampeyan, yang radio amatiran, baru ingin mendaftar sekarang sudah ingin mendapat legalisasi.”

Sekalipun pulang tanpa membawa hasil, namun hikmah yang dirasakan tidaklah sedikit, selain mengetahui bahwa pembukaan pendaftaran akan dibuka pada tahun 2010 besok, juga menguatkan mental crew MBS FM untuk tetap tegar layaknya batu karang yang diterpa ombak ujian yang keras menghantam. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar”.. “Berilah kabar gembira bagi mereka-mereka yang bersabar” ...ayat-ayat itulah yang menghibur hati mereka saat itu.

Sebenarnya, angkatan pertama mahasiswa fakultas dakwah sempat mengurus pelegalisasian radio MBS FM namun karena mereka sendiri harus mempersiapkan diri untuk menghadapi prosesi sarjana termasuk membuat skripsi, akhirnya pelegalisasian tersebut terhenti, dan tidak jelas alias mengambang. Ujian tidak berhenti begitu saja, hal yang paling menyakitkan adalah hilangnya motherboard dua komputer yang baru dibeli dan belum berumur 1 tahun, dengan rincian 1 pentium 3, dan core to duo. Padahal kedua motherboard tersebut baru saja dibelikan oleh Ust. H. Ainul Herri Abbas seharga hampir 4 juta demi memenuhi fasilitas pengembangan SDM mahasiswa/i fakultas dakwah dan kelancaran kegiatan penyiaran.

Setelah beberapa hari tidak on air, untungnya, ada satu komputer milik akhi Mahbub yang bisa digunakan untuk tetap on air, usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus, beberapa hari kemudian mesin pemancar radio rusak, akhi Mahbub yang saat itu KKN di Balongpanggang, kembali ke pondok untuk mengecek seberapa parah dan serius kerusakan yang ada pada radio, jalan mudah selalu ada, tetangga desa tempat KKN akhi Mahbub ternyata ada yang ahli dalam menservis mesin pemancar radio, alhamdulillah setelah diserviskan selama 5 hari, mesin pemancar radio MBS FM bisa difungsikan kembali.

Respons dan perhatian masyarakat intern (dari kalangan santri) dan ekstern saat itu pun tidak mendukung semuanya, tidak sedikit yang memandang sebelah mata, tak acuh, bahkan meremehkan radio MBS FM dengan berkata, “apa sih radio MBS FM itu?”. Maka, problema-problema kaya akan suka duka, manis pahit seputar radio baik besar maupun kecil telah menjadi “makanan biasa” crew radio MBS FM saat itu.

Revolusi MBS FM menjadi MY MBS FM
Cerita berawal dari kedatangan Ust. Ja’far at-Thoyyar yang lebih dikenal dengan nama Ust. Khumaini, alumni Ponpes Mambaus Sholihin yang mengambil studi S1nya di Yaman, yang pada saat itu pulang ke Indonesia, beliau sowan pada Hadratus Syaikh dan bercerita bahwa di Yaman ada radio dakwah bernama Madu FM yaman, dan yang mengisi penyiaran ataupun pengajian disitu adalah putra-putri beliau, diantaranya ada Gus Najieb dan Neng Musyafa’ah. Mendengar hal tersebut Hadratus Syaikh tertarik dan berinisiatif untuk mengembangkan radio MBS FM.

Singkat cerita, Hadratus Syaikh memerintah Ust. Ja’far ath- Thoyyah untuk menghubungi direktur Madu fm di provinsi JawaTimur yang berpusat di Tulungagung. Saat itu, posisi tersebut dijabat oleh gus Ali dari Ponpes. Madinul Ulum, Campur Darat, Tulungagung. Setelah beberapa kali dikonfirmasi, beliau, gus Ali datang ke gresik, sowan pada Hadratus Syaikh selain silaturrahim beliau juga meninjau radio MBS FM lama dan memverifikasi lokasi yang tepat untuk radio MBS FM yang baru. Beliau berjanji 1 bulan mesin sekaligus (tower) pemancarnya akan datang, tak lama setelah itu datang juga mesin sekaligus towernya. Pemasangan mesin sekaligus tower yang selesai dalam kurun waktu 2 hari tersebut membutuhkan dana sekitar 80 sampai 120 juta, yang didanai langsung oleh Hadratus Syaikh.

Nama MY MBS FM sendiri berasal dari Hadratus Syeikh yang memiliki kepanjangan Madu Yaman Mambaus Sholihin Fm, yang menjadi cabang dari Madu Fm yang ada Tulungagung dan Yaman di daerah Gresik. Kekuatan mesin pemancar yang awalnya 90 watt sekarang mencapai 900 watt, ini belum maksimal karena kekuatan mesin pemancar yang baru sebenarnya adalah 1000 watt, jika diukur melalui jarak daerah, radio MBS FM yang awalnya hanya dapat menjangkau 10 kilometer, saat ini melebar hingga 50 km, dari Suci hingga daerah perbatasan Dukun masih jelas terdengar meskipun ada gelombang lain yang masuk, memasuki Lamongan sedikit terhalang dengan gelombang dari radio Unisda yang berfrekuensi 107, 2Mhz. Melewati daerah Lamongan, perbatasan Tuban, Perbatasan Sidoarjo dan Surabaya juga masih dapat didengar sekalipun sinyalnya lemah karena adanya bayak radio komunitas lain di sana.

Hadratus Syeikh mengatakan bahwa dakwah tidaklah hanya melalui mimbar atau medium tulis saja, Hadratus Syeikh menyadari dan mengetahui sendiri bahwa akhir-akhir ini banyak serangan yang dilancarkan oleh aliran ghairuna melalui radio dan bisa didengarkan melalui banyak channel, banyak pengajian atau diskusi ilmiah syar’iyyah yang tak jarang mengajarkan doktrin dan faham yang salah.

Orientasi dan tujuan berdirinya MY MBS FM, selain sebagai wadah bagi mahasiswa/i INKAFA untuk mengembangkan minat dan bakat dalam mengolah kata, juga sebagai medium berdakwah, menegakkan syiar-syiar Islam, dan itu di follow up-i dengan penghapusan lagu-lagu pop dari komposisi musik radio MY MBS FM selain pop religi dan motivasi, seperti lagu karya Jefri al-Bukhori, Opick, Bimbo, Ahmad Dhani, Arifin Ilham dan masih banyak lagi. Sedikit menyitir dawuh hadratus Syeikh 2 minggu yang lalu, “ wes ga’ usah nyetel lagu cinta-cinta, lagu opo iku.”

MBS FM Go Internasional
Dengan jadinya radio MY MBS FM sebagai cabang dari Madu Fm di Yaman, secara otomatis radio MY MBS FM menjadi radio berskala internasional. Karena siaran radio MY MBS FM tak hanya dapat didengarkan melalui radio saja, namun juga bisa melalui medium internet. Tinggal membuka situsnya yaitu .........., pendengar bisa mendengar langsung siaran radio MY MBS FM, selain itu waktu penyiaran radio MY MBS FM dibagi menjadi 2, pagi hingga sore (sekitar jam 18.00 wib), dan malam (dari pukul 18.00 hingga 23.00 wib). Untuk pagi hingga sore, siaran disajikan langsung dari studio MY MBS FM, sedangkan untuk malam, materi on air diambilkan langsung dari pengajian di Madu FM Yaman dengan menggunakan streaming, yaitu alat yang menghubungkan siaran on line dengan radio yang sedang on air.

Selain di Tulungagung dan Gresik, Madu FM Yaman juga memiliki cabang di Ponorogo, Hongkong, Mesir, Syiria bahkan di Amerika, sehingga antara cabang Madu FM Yaman bisa saling kirim salam dan saling mengoreksi kekurangan saat on air.Yang meresmikan berdirinya cabang Madu FM Yaman adalah Prof. Dr. Habib Abdullah Baharun, karena posisi beliau sebagai pengasuh utama radio Madu FM di Yaman. Perangkat baru juga menghiasi studio radio MY MBS FM, diantaranya ada Soundblaster yaitu slot streaming yang ada di komputer, ada lagi yang bernama Compressor yang terletak di pemancar, berfungsi pengatur dan pengolah suara agar sekeras apapun suara yang keluar tidak terdengar berantakan (jembret:jw).

Untuk menghadapi instrumen elektronik radio yang serba digital ini, crew radio MY MBS FM sempat menimba ilmu di Tulungagung selama 2 hari, agar mampu mengoperasikan dan mengatasi kerusakan yang ada perangkat-perangkat tersebut. Insya Allah ke depannya, radio MY MBS FM akan lebih memperbanyak dialog keagamaan dan dialog ilmiah dengan narasumber dari dewan asatidz dengan harapan dapat memberikan pemahaman dan penjelasan terhadap permasalahan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. /Sun/.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar