Sabtu, 02 April 2011

How to Debate by English

Belajar Berdebat dengan menggunakan Bahasa Inggris
(Bag.I)


Ada beberapa sistem yang dapat kita gunakan dalam berdebat dengan menggunakan bahasa Inggris;
a) Sistem Parlementer British
b) Sistem Parlementer Asia
c) Sistem Parlementer Austral- Asia

Diantara sistem- sistem debat di atas, sistem debat yang paling sering digunakan untuk berdebat oleh kebanyakan pelajar baik dari sekolah menengah atau perguruan tinggi adalah sistem parlementer Austral- Asia. oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini, penulis ingin membantu teman- teman pembaca memahami dan mengetahui lebih dalam mengenai sistem parlementer Austral- Asia.

Apa yang kita butuhkan untuk mengadakan debat dengan menggunakan sistem parlementer Austral- Asian ini?

Dalam sistem debat ini, kita perlu memperhatikan hal- hal berikut;
i. Kita sangat menyadari bahwa dalam debat, tentu ada tim yang pro dan kontra dari suatu motion yang diberikan. Tim pro dikenal dengan sebutan Affirmative/ Positive team. Sedangkan tim kontra dikenal dengan nama Negative team. Tiap tim musti terdiri dari 3 pembicara. Tidak boleh kurang, juga tidak boleh lebih.

Catatan:
(Judul/ Topik dalam bahasa Inggris berarti tittle, namun dalam dunia debat, penggunaan istilah motion/ mosi lebih sering digunakan)
-----ooOoo-----

ii. Setiap pembicara dalam tiap tim memiliki waktu 3 menit untuk mengutarakan gagasan, pendapat, landansan, argument, ide, pembantahan, dll. Pidato yang diberikan untuk masing- masing pembicara dikenal dengan nama Substantive Speech. Tentu tiap pembicara dalam suatu tim memiliki tugas- tugas yang berbeda. Insya Allah kita akan membahasnya nanti. Dalam system ini, tiap tim harus menyiapkan reply speech. Reply Speech adalah pidato yang hanya bisa disampaikan oleh Pembicara pertama atau kedua dalam sebuah tim. Pidato ini memuat kesimpulan dari pidato- pidato yang telah disampaikan sebelumnya. Dalam pidato ini, pembicara diberikan waktu 5 menit untuk kembali menekankan poin- poin penting mengapa mendukung atau menyangkal judul yang diberikan tanpa membuat masalah atau pembantahan baru.

Catatan:
Durasi waktu yang diberikan bisa lebih ataupun kurang dari jumlah di atas. Untuk pelatihan dan pembelajaran, durasi waktu di atas sering sekali digunakan, terutama oleh pelajar sekolah menengah. Adapun untuk mahasiswa, menurut pengalaman penulis, untuk Substantive speech diberikan waktu 7 menit, sedangkan reply speech 5 menit. Memang waktu tersebut terkesan sedikit, namun bila kita mencoba untuk berbicara sendiri selama kurun waktu tersebut belum tentu kita bisa berbicara dengan lancar, dengan penjelasan yang jelas, menguatkan & dapat dipahami, serta pembantahan pada poin- poin pendapat lawan. Semuanya harus tersusun rapi dalam mainset kita yang kemudian kita translate secara otomatis dan all sudden kita presentasikan. Just prove it!!!. ..
-----ooOoo-----

iii. Urutan penyampaian pidato oleh masing- masing pembicara;
- Pembicara pertama dari Affrimative team kemudian Pembicara pertama dari Negative team.
- Pembicara kedua dari Affirmative team disusul pembicara kedua dari negative team.
- Pembicara ketiga dari Affirmative team diakhiri oleh pembicara ketiga dari negative team.
- Reply Speech oleh perwakilan masing- masing tim. Diawali oleh pembicara dari negative team lalu pembicara dari Affirmative team.
-----ooOoo-----

iv. Triple- M yang musti kita perhatikan dalam berdebat. Untuk menyampaikan debat yang baik, ada beberapa hal yang perlu kita penuhi, disingkat dengan 3M. bukan 3M milik Menteri kesehatan, menguras, membersihkan dan menutup itu . Tapi Matter, Manner dan Methode. Berikut penjelasannya.

1. Matter. Matter meliputi pengetahuan dan ilmu yang kita gunakan dan sisipkan dalam pidato kita. Matter memiliki 40% dari 100% pidato yang kita berikan. Kata kunci dari matter adalah Apa yang sedang kita bahas sekarang?. Sebagai seorang Debater, kita musti siap dengan segala hal yang terjadi dan tak terduga. So, kita musti dapat menyerap dan memahami judul dengan baik. Kita musti siap baik menjadi Affirmative atau Negative team. Seorang debater instantly harus bisa berpikir dua arah yang berlawanan.

Debater harus bisa mengira- ngirakan pendapat yang akan diutarakan lawan ketika ia berada di sisi affirmative atau negative. Mencari kelemahan dan memperhatikan kelengahan di setiap perkataan lawan. Mencari solusi, contoh, bukti, dan argument yang bisa menjadi bola salju, yang meng-counter attack semua argument lawan.

Back to Matter. Kandungan- kandungan penting yang ada pada matter adalah;
 Pengetahuan akan fakta yang terjadi. Menyampaikan fakta dan realita yang up-to-date, actual dan fresh sangat membantu menguatkan pendapat kita. Terutama ketika kita berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
 Analisis dan relevansi fakta. Tidak semua fakta yang disampaikan oleh lawan kita benar adanya. Sangat mungkin kita mengarang suatu fakta dan menyandarkannya pada seorang tokoh ternama atau seolah- olah kita mengutip dari sebuah buku terkenal. Dan tidak semua fakta yang ada, sesuai atau cocok untuk menguatkan pendapat kita atau membantah pendapat musuh kita. Aktualisasi, analisis dan kecermatan adalah hal yang sangat kita butuhkan saat itu.
 Analisis nilai hikmah/ filosofi yang terselip di balik mosi. Everything has a philosophy, doesn’t it?. Filosofi disini berarti suatu kemanfaatan atau sisi baik yang ada ketika kita melakukan sesuatu. Kita perlu menggali sebanyak dan sedalam mungkin nilai hikmah yang ada dalam suatu mosi. Kita bisa melihatnya dari berbagai aspek kehidupan yang berbeda. Misalnya, kita melihat suatu mosi dari sisi edukasi, kebersihan dan kesehatan, ekonomi, psikologi, budaya dan tradisi, dll. Pandangan aspek kehidupan yang berbeda tentu akan menghasilkan hikmah yang berbeda pula. Sekalipun berbeda namun ada satu tujuan disitu. Apalagi kalau bukan untuk menguatkan argument kita dan meyakinkan adjudicator dan audience bahwa argument kita adalah most powerful dan the trust one. 
-----ooOoo-----

2. Manner. Yang dimaksud dengan manner disini adalah konsep penyampaian matter yang kita punya. Bahasa lainnya adalah kemampuan berbicara di depan publik (public speaking skill ). Bagi sebagian orang, berbicara di depan publik bukan hal yang remeh. Rasa percaya diri dan berani memang tidak mudah dimiliki. Berlatih adalah kuncinya. Bagaimana cara kita menghilangkan nervous dan demam panggung?. Kita harus mantapkan hati, kuatkan pendirian dan tetapkan semangat. Hanya menganggap audience adalah pohon atau sesuatu yang remeh. Bayangkan kita berbicara dengan diri kita sendiri.

Kita mulai berlatih dari lingkup kecil, menengah hingga besar. Dalam lingkup kecil, seperti dalam kelas. Kita musti aktif mengajukan pertanyaan untuk melatih diri kita agar lebih kritis, juga menanggapi, berkomentar atau mengatasi instant problem. Dengan berlatih, kita mencoba mengontrol emosi kita. Karena ketika seorang debater tidak mampu mengontrol emosinya, terkadang ia akan mengucapkan apa yang semestinya tidak diucapkan. Dia hanya berpikir bagaimana memberondong lawan dengan pendapatnya, tanpa berpikir dua kali akan kelemahan di setiap pendapatnya. Hasilnya sudah bisa ditebak. Bila emosi mengalahkan logika, semua tentu tidak akan tampak indah.  . Akibat lain dari lepas kontrol adalah kita kehilangan pikiran. Apa yang musti kita ucapkan seakan menguap dan menghilang begitu saja.

Terkadang, debater juga akan kesulitan mengucapkan pendapatnya dengan lancar. Padahal semua pendapat kuat telah ia miliki dan siap ditembakkan. Namun ia hanya berbicara sepatah dua patah kata yang terus terulang dan bahkan gagap bin tersendat- sendat. Overspiritlah yang merusaknya. Semangat memang bagus dan sangat penting. Namun segala yang berlebihan atau bahkan kekurangan pasti memiliki efek samping yang buruk. Mengambil jalan tengah adalah solusi. Bagaimana meraih solusi itu? Mengontrol emosi adalah jawabannya.

Ketika sudah mampu menguasai emosi, kita coba untuk tampil dalam lingkup yang luas. Seperti mengikuti perlombaan baca puisi, berlatih drama atau teater, dll. Kesimpulannya bagaimana bisa membuat panggung sebagai sesuatu yang kita rindukan, seperti sahabat bagi kita. Dimana ketika berada di atasnya kita dapat tersenyum manis memandang tiap mata yang memperhatikan kita. Ketika seorang debater sudah mampu menguasai panggung, ia akan mampu menguasai audience dan menjadikan audience sebagai lawan bicara yang baik dan mendukungnya. Komunikasi 2 arah akan berjalan lancar dan mulus. Debater yang sangat baik adalah debater yang mampu tetap tersenyum tulus di sepanjang pidatonya, dengan tenang dan lancar menanggapi argument lawan dan memperkuat benteng opininya Dalam Keadaan Apapun.

Kata kunci dalam manner adalah “apakah perkataan kita efektif? . Efektif berarti perkataan yang kita ucapkan dapat dengan tepat mengenai sasaran. Tanpa berlebih- lebihan. Simple, short, meaningfull. Bagaimana kita tidak mengulang- ulangi perkataan yang sama. Bagaimana kita bisa langsung menjatuhkan pendapat lawan. Bagaimana kita mengucapkan perkataan yang sama dengan bahasa berbeda, unik dan padat. Berikut bagian- bagian terpenting dari manner;

 Pengaturan suara (vocal style). Bagaimana kita mengatur suara ketika menyampaikan argument kita. Ukuran standarnya, suara kita bisa didengar dengan jelas oleh audience. Tidak terlalu keras atau pelan. Suara saat bertanya musti berbeda dengan suara biasa. Perlahan, jelas namun pasti. Kita bisa variasikan dengan nada tinggi, cepat kemudian lambat yang sekiranya bisa menarik perhatian audience. Dengan catatan, poin- poin perkataan kita tersampaikan dengan jelas dan baik. Suara harus kita sesuaikan dengan isi matter yang kita sampaikan dan keadaan audience.

 Penggunaan bahasa. Tentu bahasa yang kita gunakan saat debat adalah bahasa Inggris. Yang dimaksud dengan penggunaan bahasa disini adalah penggunaan tata bahasa yang baik dan benar. Setiap perkataan yang terucap benar- benar memperhatikan kaidah- kaidah bahasa inggris. It will be better, ketika kita juga menggunakan idioms dan proverb yang familiar atau biasa didengar. Mengapa harus familiar atau biasa didengar? Jawabnya adalah untuk meminimalisir adanya ketidakpahaman atas maksud yang kita inginkan. Memilih dan memilah kata yang sesuai dan dapat dipahami adalah sangat penting. Apa gunanya, ketika kita sudah berkata banyak namun tidak dimengerti. Kita harus benar- benar memahami keadaan audience, agar apa yang kita ucapkan tidak sia- sia. Setiap detik yang berjalan adalah sangat berharga. Untuk itu, kita harus membiasakan sparing, berlatih tanding dengan seseorang yang kemampuan bahasa Inggrisnya di atas kita dan sesekali dengan seseorang dengan kemampuan di bawah kita.

 Penggunaan catatan. Adanya catatan adalah untuk mambantu kita berkata dengan efektif. Kita dapat menyampaikan poin- poin argument kita dengan sistematis. Untuk seorang debater yang expert, mereka tidak membutuhkan catatan. Mereka mampu menyusun argumennya dengan sistematis tanpa perlu membawa catatan. Perlu hafalan yang kuat dan pembiasaan agar kita bisa menyampaikan pendapat dengan lancar, fasih dan sistematis dengan foreign language.

 Kontak mata. Kontak mata adalah bukti adanya rasa percaya diri pada seorang debater. Dengan kontak mata, audiens dapat mengetahui apakah seorang debater benar- benar berbicara dengan dan memperhatikan mereka. Dengan kontak mata, debater bisa meyakinkan adjudicator akan kekuatan pendapatnya. Dengan kontak mata pula, adjudicator bisa mengetahui, apakah pendapat seorang debater itu meragukan, lemah, kuat, jujur, dibuat- buat atau memang realita.

 Gerak tubuh (gesture). Body language terbukti dapat memperkuat karakter seseorang, tanpa ia berkata sekalipun. Dalam debat, kita juga bisa menggunakannya dengan syarat, tidak terlalu berlebihan. Mengapa? Karena gerakan tubuh yang terlalu banyak cenderung terarah pada telling story (bercerita). Bercerita dan berdebat jelas berbeda. Gunakan gesture yang meyakinkan dan secukupnya saja.

 Posisi berdiri (stance). Berdiri diusahakan tidak membungkuk namun tegap. Posisi tangan pun juga harus diatur. Ambillah posisi yang sekiranya dapat dilihat dan diperhatikan dengan jelas baik oleh adjudicator atau audience. Posisi berdiri juga dapat menunjukkan mental seorang debater.

 Penampilan. Cara kita berpakaian musti sesuai dengan apa yang disyaratkan oleh panita (dalam perlombaan) apabila ada. Apabila tidak, Debater sebaiknya berpenampilan yang selayaknya. Tidak terlalu norak atau culun. Debater perlu melihat keadaan dan audience dimana ia akan berdebat sehingga sebelum ia berbicara, audience telah tertarik untuk mendengarkan perkataan kita.

 Kesan kesungguhan. Debater setidaknya telah memupuk semangat juara dan kesungguhan dari awal berlatih hingga ia terjun ke panggung debat. Bagaimana ia bisa menularkan semangatnya pada audience. Bagaimana bisa benar- benar mengendalikan dan mempengaruhi audiens.

 Sense of humor. Ekspresi serius, kaku dan tegang cenderung mendominasi wajah seorang debater. Alasannya adalah benar sekali, untuk meyakinkan audiens. Namun serius yang terus menerus tidak baik pula, perlu ice breaking di tengah- tengah penyampaian argument kita. Humor dan senyum rileks lebih dapat diterima oleh audiens daripada serius dan tegang. Humor yang terus menerus pun juga tidak baik. At the end, kita musti berusaha meletakkan porsi yang baik, dimana kita harus serius dan menyisipkan humor atau fresh joke.

 Serangan individu pada lawan. Seorang adjudicator akan melihat manner dari sisi ini juga. Tiap pembicara memiliki peran yang berbeda. Disini adjudicator akan menilai, manakah pembicara yang benar- benar mengoptimalkan perannya. Personal attack opponent memiliki tendensi lebih pada pembicara kedua dan ketiga masing- masing tim. Karena diantara tugas mereka adalah membantah argument lawan. Bila tidak terbiasa merespon sesuatu yang tidak terduga, membantah argument lawan akan menjadi masalah yang sulit. Even though, kita sudah mempersiapkan pendapat yang sekiranya akan disampaikan lawan. Intinya adalah Bagaimana kita bisa merespon dengan cepat, tanggap dan cermat argument lawan serta memaksimalkan peran/ tugas yang kita miliki.
-----ooOoo-----

3. Method. Metode memiliki 20% dari 100% hal- hal yang musti diperhatikan oleh seorang debater. Metode meliputi penyusunan peran dan pengaturan tugas. Berikut detail dari elemen- elemen method;

 Penyusunan pidato tiap pembicara. Lebih jelasnya, debater dituntut dapat mengira- ngirakan pidato yang diberikannya tidak berlebihan atau kurang dari waktu yang telah ditetapkan. Adjudicator akan memberikan penalty sebagai hukuman atas waktu yang berlebihan, biasanya berupa pemotongan skor. Kekurangan waktu pun akan menunjukkan cacat kita, adjudicator akan melihat bahwa persiapan dan latihan yang kita lakukan belumlah matang dan maksimal. Terbukti, kita tidak bisa berbicara banyak dan lancar. Maka, jangan sampai penampilan sempurna tim kita berkurang karena pengaturan waktu yang tidak tepat.

 Pembangunan team case. Debater dalam sebuah tim harus saling mengerti dan memahami peran masing- masing. Pembicara pertama harus menyampaikan ini, pembicara kedua akan berkata itu, dan pembicara ketiga yang menyelesaikan semuanya. Ketika mengumpulkan argument, setidaknya setiap pembicara dalam sebuah tim telah memiliki porsi yang sesuai dengan perannya. Hal demikian dilakukan demi meminimalisir tumpang tindih atau hit argument accident antar pembicara yang nantinya akan berakibat fatal pada penilaian adjudicator. Apa yang dikatakan oleh pembicara pertama berlawanan dengan apa yang dirumuskan oleh pembicara ketiga. Apa yang disampaikan pembicara kedua ternyata mengungkapkan kelemahan argument pembicara pertama. It’ll be really dangerous, won’t be?. ..

 Respons pada dinamika debat. Debat akan berjalan panas, tegang, spontan, cepat dengan alur yang tidak terduga penuh kejutan. Antar tim akan saling menjatuhkan dengan argumennya masing- masing. Bagi debater yang tidak siap dan tanggap tentu akan mati kaku di tengah podium. Bingung harus berkata apa. Matangkan mental dan bangun all the best training untuk mengatasi masalah ini.
-----ooOoo-----

v. Peran- peran tiap pembicara dari masing- masing tim.
1. a. Tugas Pembicara Pertama dari Affrimative team;
- Mendefinisikan mosi.
- Mempresentasikan batasan dan motif dasar dari affirmative team.
- Menguraikan peran/ tugas tiap pembicara (team split) dari affirmative team.
- Menyampaikan pembagian argument pertama dari affirmative team.
- Meringkas his delivered- speech.

b. Tugas Pembicara pertama dari negative team;
- Merespons definisi pembicarapertama affirmative team. (bisa menerima/ menolaknya).
- Membantah dengan singkat poin argument pembicara pertama affirmative team.
- Mempresentasikan batasan dan motif dasar dari negative team.
- Menguraikan peran/ tugas tiap pembicara (team split) dari negative team.
- Menyampaikan pembagian argument pertama dari negative team.
- Menyampaikan dengan singkat his delivered- speech.

2. Tugas Pembicara kedua baik dari affirmative atau negative team;
- Menjelaskan ulang pokok permasalahan (jika diperlukan).
- Membantah poin- poin pendapat musuh.
- Menyampaikan pembagian argument kedua dari affirmative/ negative team.
- Tidak boleh mengulangi argument- argument pembicara pertama dari affirmative/ negative team.
- Mengembangkan alasan- alasan yang diajukan hingga tingkat/ taraf tertentu dari point of view yang berbeda.

3. Tugas Pembicara ketiga baik dari affirmative atau negative team;
- Pemetaan (Mapping).
- Membantah poin- poin argument/ alasan musuh.
- Sanggahan/ Bantahan harus tersusun dan teratur serta dijelaskan dengan sistematis.
- Sanggahan/ Bantahan bisa berbentuk penyerangan (Offensive) atau bertahan (Defensive).
- Menarik kesimpulan dari alasan- alasan yang disampaikan.
- Tidak diperbolehkan membuat/ membawakan permasalahan baru.

4. Pidato Penutup (Reply Speech);
- Harus disampaikan oleh Pembicara pertama atau Kedua dari masing- masing tim.
- Menggambarkan inti permasalahan yang diperdebatkan.
 Menunjukkan poin- poin pertentangan/ dukungan dari perdebatan.
 Menunjukkan poin- poin yang telah disampaikan oleh masing- masing tim.
 Menunjukkan analisis terhadap poin- poin yang coba disampaikan oleh lawan.
 Menunjukkan alasan mengapa mereka yang seharusnya menjadi pemenang. (Meyakinkan keputusan adjudicator).
- Pidato penutup bukanlah sanggahan/ bantahan.
- Tidak diperbolehkan membuat/ membawakan permasalahan baru dalam pidato penutup.
-----ooOoo-----

3 komentar: