Senin, 01 September 2014

Akankah?

Sebuah Puisi
Oleh Ismail Sunni Muhammad


Sensualitas bibir yang melumat senyum jujur,
sosialisasi manis yang mendebur hampa dinding optimis
apresiasi palsu yang menggumpal menggunung,
menghitamlegamkan angan, menyusutkan garis harapan.

Tajuk dusta, fitur utama dalam ibadah,
renovasi hati dari riak riya' sudah terlanjur tak terpisah,
kombinasi dengki dan murka membutakan mata akan saudara,
bermitra dengan dunia, buat akhirat perlahan memudar fana.

Ketika komplikasi dosa membabi buta,

ketika menanamkan pahala hanyalah menyulut bara,
ketika popularitas ujub melejit, menjadi parfum resmi para muda mudi,
ketika hasrat bersabar hanya mimpi dan dongeng purba,
ketika pelita zuhud tercekam tersudut bak mujahadah nista,
ketika gelap jahiliyyah merasuk sumsum,
mendarah daging, mengeraskan kalbu yang menjerit pilu.

akankah cinta nabimu hanya sebatas kata?
akankah merindu-Mu hanyalah pujian pemanis rima?
akankah berkumpul dengan kekasih-Mu tak lebih dari sekedar fatamorgana?

Ya rabb, ihdiinaa
ya rabb, ihfadznaa
ya rabb, najjinaa

tutuplah kedua mata kami dengan senyum khusnul khotimah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar