Senin, 05 Oktober 2015

Proyeksi Kuliah #Satu


Bismillahirrahmanirrahim


            Masa muda adalah masa yang sungguh berharga. Masa dimana keadaan fisik masih prima. Masa yang diibaratkan oleh penyanyi dangdut kondang, “H. Rhoma Irama” sebagai masa yang berapi-api. Mengapa harus api? Dari pertanyaan singkat inilah, semua isi naskah sederhana ini mengalir.
            Api selalu diibaratkan dengan warna merah. Merah lekat merujuk dengan darah. Darah merepresentasikan makna pengorbanan. Pengorbanan semata ada dengan adanya kepercayaan dan keberanian. Tidak bisa hanya salah satunya.
            Kepercayaan tanpa keberanian akan selalu dicap pengecut. Kepercayaan yang pasif. Tumpul dengan nalar kritis untuk mengurai setiap persepsi yang salah. Seakan rumah dengan tiang pondasi yang hilang. Lumpuh dan rapuh. 
          Kepercayaan yang bergaris lurus dengan rasa takut akan mudah terombang-ambing dengan deru angin determinasi pihak eksternal. Setiap kemungkinan dan keraguan yang timbul dari apa yang ia percaya hanya mampu tersimpan dalam benak, terkungkung dalam dada.
            Disitulah dia akan speechless bila kepercayaannya menemui tantangan. Terlebih bila tantangan tersebut teroganisir dengan rapat dan rapi. Bagai kerbau yang dicocok kedua hidungnya. Rela atau paksa, hatinya akan terbelenggu tak kuasa.
      Adapun keberanian tanpa kepercayaan merupakan kepincangan diri dalam memaknai apa yang sejatinya masih ambigu. Sama halnya dengan karakter pertama, kali ini layaknya perahu tanpa nahkoda. Sekedar nekat, menantang besarnya samudra, gilanya badai dan curamnya jurang tanpa pertimbangan dan persediaan yang memadai.
            Sungguh ironis ketika seseorang berani membela apa yang dia tidak percayai. Dia tidak ketahui wujud aslinya. Dia tidak mengerti apa dampak buruk yang akan terjadi. Alhasil, keberaniannya layaknya singa tanpa gigi. Sebuah gambaran keberanian yang sia-sia.
            Saat ini saya berdiri. Mengaku berusaha menjadi mahasiswa sejati. Dan misi yang harus saya capai adalah menanamkan akar keseimbangan dalam sisi keberanian dan kepercayaan dalam diri saya. Karena keberanian dalam kebaikan menurut saya lebih berat untuk dilaksanakan, namun selalu berakhir indah dan berarti.
            Karena kepercayaan dalam diri saya masih belum sepenuhnya kokoh dan kukuh. Masih banyak hal yang ingin saya baca, tulis, pelajari, kaji dan pahami. Sehingga kepercayaan saya bertasbih menjadi benteng dan keberanian saya berevolusi menjadi cahaya.
      Itulah alasan saya memilih untuk selalu belajar, membangun benteng saya, menemukan cahaya saya. Sendiri memang sepi, namun selalu lebih baik daripada ramai dicerca. Dan ketika benteng saya telah membaja, dan cahaya saya bersinar cerah, saya yakin saya akan mendapatkan pencerahan hidup yang lebih baik.
         Kebersamaan yang saya dambakan adalah kebersamaan yang memupuk kebaikan. Disinilah saya ingin berada, hidup dan tumbuh. Dengan berapi-api. Dengan semangat pengorbanan dan keberanian. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar