Senin, 05 Oktober 2015

Proyeksi Kuliah #tiga

Bismillahirrahmanirrahim
         
          
         Sebuah kisah singkat saya dapati saat saya membuka facebook. Adalah tentang seorang yang telah terlanjur tua. Saat muda, dia berharap mengubah dunia. Menyadari sulit, ia berubah pikiran namun masih dengan semangat yang sama. Ia ingin mengubah negaranya saja. Dari sekian juta orang, ia semakin matematis mengukur kemampuan dirinya. 
            Tumbuh rambut putih di kepalanya, ia berinisiatif untuk hanya mengubah kotanya saja. Malang, tubuhnya pun tak kuasa memenuhi target yang begitu rapat dan ketat. Usianya semakin tua, dan baru dia tersadar. Mengapa ia tak mengubah dirinya sendiri terlebih dahulu??
            Pertanyaan di atas kerapkali dilontarkan seorang motivator, khususnya dalam acara seminar mengenai kepemimpinan atau pembentukan kepribadian. Namun, anda beruntung membaca naskah singkat ini, karena saya akan membedahnya disini.
            Siapa yang tidak ingin kaya? Siapa yang tidak ingin selalu juara? Siapa yang tidak ingin berkuasa? Siapa yang tidak ingin terkenal diakui semua? Semua orang atau hampir semua, pasti memiliki jawaban ya untuk beberapa pertanyaan di atas.
            Tercium bau obsesi dan ambisi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Memang iya. Lalu, apakah salah bila kita mengangguk iya, setuju dengan persepsi khalayak? Tentu manusiawi menurut saya, ketika seseorang menginginkan kebaikan dalam hidupnya. Namun, pastikan untuk tidak selalu lupa dengan dirinya. Lebih akurat, keadaan dirinya sendiri sebelum menatap orang lain atau yang lain.
            Berpikir progresif sangatlah baik. Cenderung memotivasi seseorang untuk lebih giat dan semangat meraih sesuatu, malah. Berpaham idealis juga sangat mantap, dia bisa mendesain tiap harapannya dalam bingkai-bingkai manifestasi nyata.
            Namun perlu diketahui, bahwa ada dinding realis dalam hidup ini yang kerapkali diabaikan beberapa pihak. Terlalu progresif dan idealis hanya akan menghabiskan seseorang dalam tujuan yang semu untuk diejewantahkan dalam aksi nyata. Berpikir logis sangatlah dibutuhkan sebagai neraca pengukur keseimbangan keduanya.
            Dan dengan menjadi mahasiswa di sini saya ingin lebih memperhatikan diri saya. Kualitas dan nilai saya sebagai manusia yang memanusiakan manusia. Tentu saya juga ingin berorganisasi. Karena berorganisasi membantu berpikir cermat dan hati-hati untuk selalu menyelesaikan tanggungjawab dengan rapi.
            Dan dengan jurusan manajemen yang saya akan tekuni ini, saya bercita-cita saya dapat memberikan kemaslahatan yang massif, yang dirasakan semua pihak dan tentu setelah saya men-tune up kapasitas keilmuan dan keluasan hati saya. Saya ingin menjadi pembesar yang disegani. Pengayom bagi tiap kalangan. Teladan bagi sesama. Dan mutiara pembahagia untuk orang tua.
            Itulah motivasi saya belajar di sini. Melatih benak saya untuk berpikir logis, menduga positif,  dan terus mengembangkan apa yang menjadi minat dalam bakat saya. Selalu progresif, terdepan demi membawa kebaikan idelais yang akan saya bagi dalam langkah nyata nantinya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar