Senin, 05 Oktober 2015

Proyeksi Kuliah #enam

Bismillahirrahmanirrahim

             Ketika membuka sosial media, mata saya tertahan membaca sebuah meme dengan isi yang unik. Adalah bahwa hidayah layaknya cahaya, ia tak akan menyapa kamar yang tak dibuka jendelanya. Seketika saya merenung, saya berpikir apakah kamar saya telah terbuka daun jendelanya?”
            Kebaikan dan orang baik memiliki magnet dengan ciri khas tersendiri. Karakter magnet tersebut adalah wajah yang dipenuhi dengan cahaya, ketenangan hati, kejernihan pikiran, ketulusan ucapan dan bijak dalam tindakan. Ia layaknya mutiara. Kerap tersembunyi namun begitu padat dengan filosofi.
            Tentu bila ingin memiliki magnet yang sedemikian membutuhkan usaha yang tak sedikit dan tak menerima diam. Curahan daya dan muatan asa. Dua yang mampu mendiferensiasikan kultur manusia dengan begitu signifikan.
            Daya tiap orang dalam berbuat baik acapkali tak sama. Begitupula asa. Layaknya iman, semangat memiliki fluktuasi yang rentan sering terjadi. Eksistensi hawa nafsu dan setan kian membuat berlaku baik sebagai pilihan terakhir atau kesekian.
Apalagi setelah mengetahui bahwa kebaikan selalu tersembunyi. Ia bersembunyi dalam kain yang dekil, senyum yang pahit, tangis yang khusyuk, indera yang tak sempurna. Ia menyamar dalam ujian dan cobaan. Berusaha melatih kita untuk tetap mantap dalam asa kita, tetap kuat dengan daya kita.
Itulah sepintas nilai yang saya lihat dari MASTAMARU 2015. Tarbiyah jasmani dan ruhani agar dapat membuka atau setidaknya menyentuh jendela-jendela dalam kamar hati kita. Agar cahaya Allah SWT yang lembut berkenan memeluk hati kita. Agar kesejukan sabda nabi Muhammad SAW menyirami ruas-ruas jendela kita yang kering dan kusam.
Dengan label Muhammadiyah, saya percaya, belajar dalam universitas ini akan mampu membantu saya untuk tumbuh mengenal karakter nabi yang saya cintai. Menyelami keagungan tata krama beliau. Meneladani mujahadah beliau dalam belajar, mengajar dan berdakwah.
Saya ingin melebur dalam kebaikan ilmu yang ada dalam belajar dan larut terhipnotis untuk belajar dari kebaikan siapapun dan apapun. Bila saya kelak mampu membersihkan memar luka dalam “jendela kamar” saya, saya ingin membantu mendorong jendela kamar yang lain. Kamar –kamar disisi saya, disekeliling saya, yang bernafas dan hidup layaknya saya,
Kebutuhan saya akan cahaya begitu tak terhingga, karena dengannya, saya mampu menerangi kamar hati saya kala pekat kesedihan datang merana. Saya mampu menata mata agar lebih hati-hati memperlakukan siapapun saja.
Sehingga saya bisa bergaul lebih baik lebih hangat. Menempuh dan menyelesaikan studi saya dengan prestasi yang baik sesuai dengan harapan saya dan mereka yang mencintai saya. Saya tahu itu semua tidak mudah. Sederhana, mastamaru adalah tantangan pembuka, yang akan membantu memanaskan gigi persneling otak dan hati saya. Insha Allah semuanya akan berakhir indah pada waktunya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar