Minggu, 19 Juni 2016

Ramadhanku

Sebuah Konstelasi Bingkai Hati
Oleh: Ismail Sunni Muhammad*

   Tiada bulan seindah bulan Ramadhan. Bulan ketika setiap nafas yang terhembus adalah tasbih, dan istirahat pelepas lelah adalah ibadah. Bulan di mana awalnya adalah kasih sayang Allah SWT, keduanya adalah pengampunanNya, ketiganya adalah pembebasan kita dari api neraka. Bulan di mana al-Quran diturunkan. Pintu surga dibuka dan pahala dilipatgandakan. Bulan yang menghipnotis setiap muslim menjadi versi terbaik diri mereka. 
 Tiada malam seindah malam Ramadhan. Dimana bulan dan bintang tidak lagi sendiri menemani malam. Lantunan al-Quran terucap terbata-bata indah dari bibir mungil anak-anak kecil di setiap bilik surau dan masjid.  Tiap petak ubin seakan menjadi saksi dari ribuan kening yang menciumnya demi menyembah Allah SWT pencipta semesta. 


Seakan hampir selalu sama, atmosfir religius yang begitu merindukan di setiap kota di bulan Ramadhan. Namun untuk saya, sungguh, Malang, Gresik, Mukalla, Tarim, dan Ponorogo dengan bayang-bayang khasnya menelisik relung hati saya dan memaksa saya mengaku, “ini sungguh beda”. Beberapa kota tempat saya melabuhkan kepingan kenangan dan membentuk mozaik kesan masing-masing memberikan spectrum warna hidup yang berbeda untuk saya.
       Apa yang saya tulis adalah satu byte manifestasi kehidupan saya yang sangat sederhana. Untuk mencatatnya agar dibaca sebenarnya membuat saya malu memerah, melihat saya tidak super sibuk dengan kegiatan spesial di bulan yang istimewa ini.
Hati saya selalu menegur, “hari saya musti lebih baik dari kemarin saya”. Jujur, tahun kemarin baru bisa mengkhatamkan al-Quran, tidak selama bulan Ramadhan, melainkan off-side ke satu bulan setelahnya. Nafsu masih terlalu berontak untuk bisa dibelenggu. Entah apakah itu yang menjadi sebab hati dan semua anggota tubuh pada ibadah diam membeku.
Dari sisi akademis, bukan pertama kali buat saya merasakan kuliah dan ujian akhir semester di tengah bulan Ramadhan. Cukup menantang dengan memaksa otak berkutat dengan diktat. Terlebih untuk mata kuliah dengan inisial “A” atau “AK” alias akuntansi dan akuntansi manajemen. Saya pastikan pelipis dan perut semakin berkerut bergaris. Semoga Allah SWT memudahkan semua.
Sedikit melegakan, Ramadhan ini dua adik saya yang studi di Gontor ikut bergabung berlibur di rumah. Terasa lebih ramai dan asyik bisa bersilaturrahim juga menghabiskan detik demi detik waktu berbuka dengan bermain PES bersama. Kabar menggembirakan lainnya, TIM bola favorit saya, AREMA selalu di puncak klasemen ISC 2016 hingga saat ini. Penat dengan siaran bola lokal, jari begitu mudah berpindah menekan channel dimana EURO 2016 disiarkan.
Agar ilmu saya lebih berkah, saya membantu ibu mertua saya mengisi beberapa kelas Ramadhan di Madrasah Diniyahnya di Pengkol. 3 kali seminggu dalam dua minggu saya menebar salam, senyum dan sapa pada murid-murid kelas 4 yang lugu dan lucu. Berbagi kisah islami, bersama-sama bertadarus dan mengaji.
Untuk menghindari syndrome jenuh, saya menasbihkan diri saya menjadi seorang PPT alias Para Petualang Tarawih dan Para Pencari Takjil. Saya menjelajahi masjid demi masjid Ponorogo untuk turut menjadi saksi setiap lirih takbir dan adzan Isya’ yang dikumandangkan. Siapa yang mau melewatkan momen yang indah ini, dimana takjil gratis lengkap dengan paket nasi super hemat dibagikan cuma-cuma. Tidak hanya di masjid dan mushola, bila beruntung kita bisa bertemu ruas-ruas jalan sepanjang lampu merah turut berderma bersedekah menebar kurma manis sebagai pelepas lapar dahaga. 



Menambahi, saya masih belum menemukan rampai khas Ramadhan di Ponorogo kecuali pagelaran seni Reog di alun-alun di pertengahan Ramadhan tadi malam. Saat di Tarim, ada aura Ramadhan yang saya sangat rindukan hingga saat ini. Bayangkan anda bisa memilih Tarawih di beberapa jam tertentu. Apa yang saya coba sampaikan adalah bahwa jadwal sholat Tarawih di Tarim tidak terbatas ba’da Isya saja, beberapa masjid seperti masjid Segaf, Muhdlor, Jami’ dan lainnya memulai sholat Tarawih pada pukul 07.30, 08.00, 09.00, 11.00, 12.00 dan paling akhir pada pukul 03.00 pagi. Masha Allah, bayangkan dalam satu malam, anda bisa sholat Tarawih 100 raka’at.
Tidak hanya nutrisi jasmani, namun juga rohani. Takjil dan pengajian adalah dua elemen Ramadhan yang hampir tidak bisa dipisahkan. Beberapa pengajian di UMPO, UNIDA dan masjid Jami’ Ponorogo adalah assembly point penuh berkah yang sungguh rugi bila tidak saya kunjungi.
   Mengisi waktu senggang, saya mencoba untuk fatsabiqul khoirot di beberapa lomba yang diadakan oleh BEM FT UMPO. Adalah tartil al-Quran dan menulis artikel dalam blog, lomba yang saya ikuti untuk mengasah kompetensi menulis saya yang sedemikian tumpul dan mengukur seberapa indah saya dapat melantukan kalam Yang Maha Indah. Semoga Allah SWT senantiasa memberi yang terbaik untuk saya. 
    Bagi saya, media sosial merupakan sebuah generator pundi-pundi pahala. Bagaimana tidak, setiap pesan kebaikan, hikmah, motivasi dan inspirasi yang kita share dibaca ratusan ribuan orang. Terus mengalir layaknya cabang-cabang muara yang menuju ke hilir tidak terhenti. Tidak hanya berbagi, namun juga saling mengingatkan. 
       Sekedar broadcast untuk bangun sahur, berangkat tarawih, bertadarus bersama, diskusi keagamaan, berbagi lokasi takjil yang tokcer, atau bahkan jalan-jalan di pagi hari lepas sholat shubuh. Medsos tidak hanya praktis dan ekonomis, lebih dari itu global network yang ditawarkan sungguh luar biasa. Seakan tidak pernah tidur selama 24 jam, medsos menghibur kita agar tidak sendiri selama kita connected dengan internet tentunya.
         Medsos membantu kita berbisnis, memperluas cakrawala pengetahuan dan mengaktualisasikan diri kita. Bila digunakan untuk kebaikan, saya yakin output positifnya tidak terbendung. Satu contoh adalah facebook SEMUA TENTANG PONOROGO yang berbagi cerita, info dan berita mengenai apapun terkait di Ponorogo. So, saya tidak perlu lelah berjalan mencari brosur dan spanduk di pinggir jalan, cukup dengan beberapa sentuhan di ujung jari, medsos mendekatkan kita pada mereka yang jauh.
Last but not least, itulah sepenggal kegiatan-kegiatan saya dalam setengah pertama bulan Ramadhan. Harapan terbesar saya adalah agar Allah SWT menerima semua amal ibadah saya, menumbuhkan cinta saya untuk selalu bersua dengan firman-Nya, memaafkan buih-buih dosa saya serta berkenan mempertemukan saya dengan Ramadhan depan. /sun/
*Penulis adalah mahasiswa smt2 prodi Manajemen fakultas Ekonomi UMPO

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar