Senin, 05 Oktober 2015

Proyeksi Kuliah #Dua

Bismillahirrahmanirrahim


          Pendidikan buat saya adalah suatu keniscayaan. Sebuah urgensi yang tak terelakkan. Entah, sudah berapa analisa dan penelitian yang lahir dan tercatat. Semuanya bisa terwujud dengan pendidikan. Secara tegas, saya berbicara pada hati saya, “pendidikan adalah harga mati”. 
          Pendidikan adalah awal hidup seorang manusia. Bayi yang belajar menatap dunia dengan sentuhan orang tua. Ia meniti langkah demi langkah. Sesaat hanya tertidur, lalu merangkak, mencoba berdiri. Sesekali menggandeng tangan bundanya manja. Sesekali menangis terjatuh, sesekali merengek membutuhkan perhatian dan pendampingan. Hingga akhirnya ia bisa berlari.
           Berlari dari masa lima tahunnya hingga meremaja. Sedemikian cepatnya hingga ia berusaha untuk melangkah dengan perlahan namun dewasa. Itulah deskripsi singkat awal pendidikan merambat memeluk kehidupan manusia.
          Siapapun tahu apa tujuan dari pendidikan. Untuk lebih mampu menjalani hidup dengan baik, secara umum.  Secara khusus, seperti agar ranking 1, mudah mendapatkan pekerjaan, cepat mendapatkan pasangan,  tercukupi kebutuhan dan keinginan, popularitas, jabatan, dll. Obsesi bergerak menyesuaikan tiap naluri.
           Namun pendidikan layaknya pisau bermata dua. Bisa bermanfaat atau membuat makin bejat. Bisa membuat kita selamat atau semakin sesat. Karena pendidikan tidaklah hanya mengenai dunia, namun juga akhirat. Tak hanya mengenai fisik namun juga bagaimana membentuk hati yang baik.
           Fase pendidikan yang saya jalani saat ini membuat saya, mau tak mau, semakin memaksa memahami arti pendidikan sejatinya. Semakin tinggi jabat pelajar yang saya dapatkan dan rasakan pada pundak saya membuat saya sedih dan senang sekaligus. Senang, karena ini menandakan saya telah mampu melewati jenjang sebelumnya. Saya dikategorikan lulus untuk bisa mendalami disiplin ilmu tertentu secara spesifik.
           Sedih, bila saya tidak mampu mengemban sebuah amanah yang dipikulkan pada saya. Bukankah korelasi jabatan dan amanah sangat kuat dan erat?
           Kata maha yang biasanya dikaitkan pada titel resmi nan mulya milik Tuhan, dicomot dan dipaksakan bertemu dengan jabatan makhluk yang begitu dungu dan mudah berlaku luput. Rumusan makna dari kata maha sendiri tak akan bisa disempurnakan oleh formula arti dari kata manusia.
           Disinilah, saya ingin mencoba memberikan kontribusi. Sekalipun tak akan bisa bukan berarti tidak mungkin. Result will not ever betray the process. Apa yang diperjuangakan dan dikorbankan senantiasa akan mendapatkan upah dan imbalan. Selalu ada buah yang manis dan bunga yang indah menghiasi pohon yang dipupuk dan disirami dengan baik.
           Dan saat ini saya masih berupa pohon yang muda, dengan tangkai tak seberapa. Utas dedaunannya pun bisa mudah dijumlah. Di sini semoga, saya mampu menjadi pohon yang tak mudah goyah, apapun rintangannya, apapun tantangannya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar