Senin, 05 Oktober 2015

Proyeksi Kuliah #empat

Bismillahirrahmanirrahim



             Kerap kali seseorang atau beberapa orang berujar kepada saya, “be yourself”!! jadilah diri kamu sendiri. Adalah dorongan untuk tidak menduplikat gaya hidup orang lain. Adalah bagaimana hidup dengan orisinalitas rasa kita. Tidak ada plagiat dalam berucap, tidak ada paste dalam bertingkah, tidak ada membebek dalam berpikir. Tidak ada hal yang tidak berlaku tanpa melalu celah filter dalam diri kita, ourselves.
             Beberapa impact yang dirasakan dari seseorang yang memutuskan menjadi dirinya sendiri adalah penghakiman orang lain. Bayangkan, mengikut pada orang lain saja dihujat, bagaimana menjadi diri sendiri?
            Menurut saya sendiri, ada yang perlu diperbaiki dari ucapan semangat, “be yourself” ini. Memang tidak sepenuhnya salah namun tetap ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tidak semestinya ada. Mari coba kita kupas bersama.
            Jadilah dirimu sendiri! Sebenarnya bagaimana kita menjadi diri kita sendiri? Tentu diri ini milik kita, lalu apa yang dimaksud dengan menjadi? Ada surat dalam al-Quran yang menjelaskan bahwa kita adalah makhluk sosial, yang tak bisa tak hidup dengan orang lain. Kita membutuhkan bantuan dalam bentuk apapun.
            Surat tersebut bernama an-Naas, kumpulan manusia. Segerombolan orang yang memiliki ego yang berbeda dengan proses hidup yang tak sama. Mengajarkan bahwa kita hidup dengan melihat. Membaca dengan mata. Bahwa apapun yang ada dan terjadi dari perilaku kita, semata adalah stimulasi atau cermin dari apa kita lihat dan tatap.
            Visual yang tertangkap menjadi bayangan kehidupan yang terekam dalam memori otak lalu menghasilkan cipta laku untuk meresponnya. Reaksi motorik untuk merasakannya, menyentuhnya sehingga dari mata lah, hampir semua indra tubuh tersentuh untuk bergerak.
            Mata mengamati dan yang mengontrol adalah hati. Setiap apapun yang terlihat, hakim terakhir yang berkata, “eksekusi!” adalah hati. Kita hidup dengan mencontoh dan meneladani sebagai hasil final dari membaca dan mengamati.
            Maka ungkapan be yourself sungguh ucapan yang sempit dan penuh luka. Apakah kita sudah sedemikian mulia untuk hanya melihat dan menjadi diri kita? Bahkan semulia-mulianya orang selalu melihat kemuliaan yang lebih mulia disisi orang lain.
            Be like your prophet Muhammad SAW! Itulah adagium yang seharusnya ada dan terlaksana. Secara kita adalah bangsa muslim dan muslim yang berbangsa. Dari adagium positif inilah, saya mengawali karir saya sebagai mahasiswa untuk belajar disini. Keinginan bagaimana tumbuh sebagaimana apa yang nabi kita contohkan. Dalam universitas Muhammadiyah ini.
            Atribut positif, keadaan kondusif serta sarana yang memadai saya setujui sebagai pembantu saya bagaimana merealisasikan adagium “be like Muhammad SAW”. Dan kelak, semoga saya bisa semakin menjadi pribadi yang lebih baik dengan prodi manajemen yang saya pilih ini. Melewati masa-masa awal hingga akhir dengan senyum serta memilih UKM yang sesuai dengan minat saya adalah langkah kedepan saya. Sekiranya akan membuat saya berarti dan memberikan pada selain saya sebuah arti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar