Kamis, 13 Juni 2013

Antara faktor lucky dan belajar sejak dini~

~ Catatan Harian


Mendekati ujian akhir semester ini, seperti biasanya, asrama dan pelataran kampus terlihat tenang namun ramai. Tenang karena teman-teman larut dalam konsentrasi mereka, mereview pelajaran satu semester, ramai karena mereka tidak hanya satu. Bersembunyi di balik rimbun kebun, berteduh di bawah pohon kurma yang berbuah, I’tikaf di masjid yang tenang atau hanya sekedar duduk di atas ranjang. Tiap orang serasa sibuk dan larut dalam sakaw khawatir dan tekanan ekspektasi. Mengapa demikian?

Sakaw khawatir dan tekanan ekspektasi, karena ujian akhir semester kerap kali menjadi tolak ukur dan penentu apakah kita benar-benar bisa melanjutkan level studi kita ke level yang lebih tinggi, atau tetap di kelas yang sama dengan konsekwensi mengulang satu tahun, atau dipulangkan ke Indonesia. Setidaknya, itulah aturan yang tertulis dalam kode etik universitas kami, Al-Ahgaff, Hadhramaut, Yaman.

Bisa dikatakan, kita tidak hanya ditantang ujian analisis dan komprehensi mata kuliah dengan beberapa kitab ratusan halaman selama satu tahun, tapi juga fisik dan mental kita. Fisik, karena untuk memuthola’ah apa yang telah dikaji satu semester membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Musti memotong jatah tidur, menghabiskan hari dengan memeluk kitab yang diujikan. Mental, karena threat yang saya sebut di atas, tetap di kelas yang sama atau pulang ke tanah air tanpa sukses. Mengerikan bukan? Mungkin tidak bagi anda, tapi bagi kami, iya banget.

Itu bisa menjadi motivasi sehat serta dopping penghilang kantuk saat menelaah kitab, yang biasanya membaca dua halaman sudah menjadikan mata berkelip 5 watt. Itulah mengapa saya menyebutnya sakaw, memaksa mengeluarkan potensi tersembunyi tertinggi dalam diri dalam waktu yang terbatas. Dan segalanya yang dipaksa, tentu tidak akan terasa nikmat dan mudah di awal. Namun, secara teratur dan bertahap, bisa melahirkan 2 kemungkinan, adiktif mengkaji kitab atau bahkan sebaliknya, membedahnya secara kondisional. 

Termasuk saya, sejujurnya adalah orang yang sulit untuk diajak belajar secara konsisten. Masih cukup sulit mendisiplinkan diri, memenuhi jadwal yang telah diatur, menerapkan gagasan yang diimpikan, dll. Lebih mudah berkata dan menulis daripada beraksi dan menjadikannya nyata. Sehingga, saya bisa dikatakan masuk klasifikasi orang yang berkeyakinan adanya faktor lucky atau keberuntungan. Beberapa orang mendefinisikan keberuntungan dengan multi-interpretasi. Dalam kasus saya, keberuntungan saya adalah pada doa orang tua, rekan sahabat, rasa belas kasih guru, dan semata kehendak Allah.

Ya, karena saya, ehem, lazy but talented, kata teman saya demikian. Untuk bisa lulus setiap ujian yang diadakan di sini, sebenarnya mudah-mudah gampang. Teman saya menimpali omongan saya, “ahwaalut thullab tatawaqqof ‘ala hasabi adhraaful asatidz”. Singkatnya, pelajaran di sini mudah, tinggal lihat guru pengajarnya saja. Bila gurunya terkenal rumit, maka mata kuliah yang mudah, jadi rumit juga. Bila gurunya sederhana, mata kuliah yang minta ampun sulit pemahamannya, jadi ringan dihisap, layaknya menghisap Surya menthol atau Sisha [rokok arab].

Semesta mendukung, itulah yang menjadi prinsip kedua saya, saat teman-teman sudah memulai belajar sejak 2 minggu yang lalu, hari ujian tinggal 3-4 hari saya baru mempersiapkan diri. Keyakinan kedua, nilai positif tertekan adalah melejitkan kemampuan kita yang tak terduga. Sekalipun saya pernah gagal, entah saya masih merasa tidak kapok. Saya ikuti tiap ujian dengan macam persiapan spontanitas yang bermacam-macam tanpa menghiraukan nilai yang saya dapatkan di akhir. Lastly, beberapa dapat baik [jarang mendapat mumtaz/excellent], beberapa membuat saya bernafas berat dan mengelus dada. 

Semoga saja, Allah segera memberi saya suntikan hidayah dan inayah saya untuk belajar layaknya minum dosis obat, sehari 3 kali sehabis makan. Teratur dan segera lulus. Doanya ya teman-teman pembaca. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar