Selasa, 11 Juni 2013

Maafkanku, ya Rabb

Sebuah Puisi


Ku berdoa dalam tiap roda senyap pelita,
Dengan keruh hati, setengah jiwa dan tubuh yang lelah,
Mematahkan tiap laju nadi dalam jam jari,
Memompa depresi yang menggayut dan merenggut,
Bulir nafas bebas yang semakin meranggas

Ku berjanji dengan khidmah yang tak murni,
Mencoba berpasrah dalam harapan walau resah,
Menghidupkan keras kalbu yang legam membiru,

Duhai rabbku, maafkanku menyiakan ruh yang kau tanam,
Ampuniku yang merobek cahaya hidayah dengan rutuk kufur kejam,
Membelai ketulusanmu laksana mengangguk paksa tercekam,
Aku tak tahu, bisakah kucintaimu ataukah kata cinta hanya sebatas mulut terucap semu,
Ketika kau letakkan dunia menggelapkan mata.

Padahal, telah ku serap semua madu manis nikmat tak berupah,
Habis, habis tak bersisa,
Hanya neraka yang menungguku di sana,
Tertawa dalam kutukan iblis yang meronta,

Padahal, telah ku endus semua kedamaian hati yang nyata,
Memungkir dengki, menolak mentah-mentah
Tak sanggup kupasrah dengan kalbu jujur tak percaya
Bagaimana ku bebas, bebal pikirku membelenggu nyawa terluka

Bagaima bisa kutegar, bila riya’ku menggelegar,
Balik menghisap sendi syukurku yang terdampar,
Bagaimana bisa ku bersendawa, dengan puji hina yang tak berjumlah,
Bagaimana ku meminta, sedekahku palsu mengundang murka.

Hingga ku berdiri dengan roja’ku yang menangis tertatih,
Memohon dalam sengguk tabah, indera yang sesat mengemis tak berdaya,
Putaran nafsu yang membubung, meniupkan buhul derita
Mulutku bimbang, bibirku curang , mataku menantang.

Innas sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati,
Lillahi rabbil ‘alamin.
Betapa ku berkhianat, terlalu dalam menggoreskan racun dusta,
Hidupku hanyalah demi desir tubuh yang kan punah,
Sholatku, tak ubah ajang pamer ketaatan semata,
Ibadahku, alih-alih memikirkanmu, akalku menghitung harta di toko dan rumah,
Hidup dan matiku,
Wahai ya Rabb, aku telah lama lupa.

Sudah berapa lama aku tak berdoa?
Sudah seberapa usang lembar quran tak terbaca?
Sudah berapa malam terlewat dengan debum musik laknat berantai dosa?
Begitu sedikit, cinta yang tersisa, setitik nila,
Yang baru teringat kala deras hujan musibah,
Hartamu, hanya milikku, siapa kau dan rakyat jelata?

Syahadahku meringkuk, terkapar dengan raut kecewa,
Dendam hambamu mengalir, menggelegak dalam racun risau yang mengiris,
Maafkan ku ya Rabb,
Memunggungimu, dengan maksiatku,
Menduakanmu, dengan zina depan wajah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar