Rabu, 12 Desember 2012

7 Helai Daun Tentangmu

Sebuah Puisi Pengagum Rahasia
Oleh Ismail Sunni Muhammad



Sehelai daun gugur,
Awalku melihatmu,
Tengah terik panas matahari menyengat,
Bidadari surga berkerudung anggun merah muda,
Menebar senyum manis, dingin nan lembut kau menyapa,
Jantung tak berdetak, suaraku tercekat,
Termenung, dengan senyum seadanya, serba salah,
Entah apa yang tengah ku rasa,
Ku pikir aku mendambanya. ..






Dua helai daun gugur,
Kudengar sayup melodi halus merdu terlantun dari bibir tipismu,
Membaca kata demi kata sastra agung sang Pencipta,
Sesekali, kau seka bening air mata yang lahir membasahi pipi putihmu,
Sesekali, terukir senyum buah syukur tulus dan ikhlas menghias parah wajahnya,
Aku masih terdiam, hanyut dan tak tahu harus berkata dan berlaku apa,
Di balik serambi masjid, ku bersandar, menatapmu bangga,
Subhanallah, akankah aku memiliki istri seperti dia?

Tiga helai daun gugur,
Kau tatap para audiens dengan kobaran semangat dan ketetapan tekad,
Kau tukas runtut tanya santun bersahaja,
Selalu kau awali dengan basmallah,
Bersenandungkan niat mulia, beralaskan budi karimah,
Entahlah,apakah aku, hanya aku yang terpesona,
Menatap tiap ucap aksara, memperhatikan tiap gerak bahasa,
Begitu merindukan melihatnya dengan jilbab hijau mudanya.

Empat helai daun gugur,
Hatiku bergetar hebat,
Mataku gerimis, kalbuku menangis,
Pikirku rapuh, tubuh serasa lumpuh,
Kalut!!
Dengan hanya melihatmu tersedu menangis,
Di pinggir taman mawar merah yang turut layu sedih untukmu,
Kesalku membakar,
Geramku berontak,
Siapa dan apa yang tega serta rela,
Membuat bidadariku perih terluka,
Gusar gelisah menyatu membara,
Ingin aku medekapnya, membuatnya nyaman, menghilangkan seluruh beban, melegakan perasaan,
Lagi-lagi aku hanya terdiam, tak hanya dia,
Aku dan diriku harus terjaga,
Saling tak menoda, ku sadar ku belum halal untuknya,
Hanya mampu mengawasinya dalam bisu, seraya mengirimkan beberapa mutiara doa,
Senoga kau segera tersenyum kembali, dinda. ..

Lima helai daun gugur,
Aku bersujud dalam tangisku,
Aku menangis di setiap takbirku,
Meremas dada untuk tiap butir tasbihku,
Melihatmu bersanding dengan malaikat duniamu,
Tak rela namun tak bisa melawan,
Ingin berontak namun tak kuasa,
Menyesal tak berani mengkhitbahnya,
Apakah karena aku terlalu menutup rapat diri demi menjaga suci?
Apakah sebab pesimis dan kurang dewasa hati?

Enam helai daun gugur,
Wahai rabb, dengarlah aku, lihatlah aku, dekaplah aku,
Yang tersenyum dalam tangis demi bahagianya,
Yang menangis dalam senyum untuk menyamarkan luka,
Lututku goyah, saat menemuinya di pelamina mahligai dunia,
Mulutku terkatup, cemburu dan rela melihatnya bersanding hangat rapat ceria bersama ksatrianya,

Tujuh helai daun gugur,
Semoga engkau kian bercahaya dinda,
Menata rumah tangga beriman, islami bertabur sunnah nabawi,
Hanya satu pintaku,
Izinku untuk menjadi lukisan indah dalam kenangan hatiku,
Terima kasih, adinda. ..


After playing Basket Ball, have rest for a while,
Menggurat puisi dengan “Someone Like You”nya Adelle,
Ghurfah Hasyim ‘Asy’ari, Kamis, 13 Desember 2012, 8.45 am.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar