Minggu, 16 Februari 2014

~ Kisah Kata

Sebuah Puisi


Layaknya bulan menanti mentari,
Yakinlah kamu tidak tercipta sendiri,
Layaknya awan mengharap hujan,
Percayalah, kamu adalah yang ia dambakan

Bila ia adalah aku, dengan setia ku kan berada di sisi menemani,
Bukankah kamu mengetahui itu dari lubuk hati,
Memegang erat kedua tanganmu dalam hangat dua tanganku,
Ketika hidup terasa begitu dingin membisu.

Ku katupkan mata, ketika kehilanganmu hanya menyisakan duka,
Menghapus suka, seakan dunia akan berakhir begitu saja,
Tak ada bumi tuk kaki berpijak, tak ada langit tuk mata menerawang,
Tertimbun mozaik buta nan kosong, bayang hitam tergantung membentang.

Masihkah berkenan menanti salju di padang yang gersang,
Dengan sepucuk harapan, lalu lalang terbang,
Masihkan sudi menunggu waktu yang tak berputar kembali,
Demi ratap sedih yang hanya membunuh melukai.

Bila kau larut dalam kecamuk derita dengan cinta yang tak berbalas jua,
Sadarlah bahwa setangkai ikhlas begitu mudah terbakar dengan sejumput api dusta,
Bila kau menyesali, takdirmu hidup di lintasan dunia ini,

Kemarilah, 
ku tunjukkan begitu cantiknya melati di belantara duri. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar