Sabtu, 12 April 2014

Titah Asa ~

Sebuah Puisi


Ku tatap rembulan yang mengintip malu,
Adakah mimpi indah menyelimuti tiap makhluk dalam nyenyak tidurnya
Bila aku kuasa,
Menitah dalam doa,
Itu adalah,
Biarlah ku tutup dunia dengan senyummu merekah.

Suatu hari kelak kau kan dewasa,
Suatu hari kelak kau kan jelajahi dunia,
Membumikan angkasa di sela sela jarimu,

Yang terkadang membuat hari mu begitu lemah,
Bahkan memaksamu mengaku, tak ada jiwa berkobar merah.
Hingga tampak mutiara dari tiap sesak yang lelah.

Biarlah surga berserapah,
Itu dusta yang gila,
Itu durka yang nista,
Kau tahu kau bukanlah ia yang tercipta sempurna,

Sadarlah,
Kau sendiri di balik bayang siang selasa,
Kau sepi dalam hati hitam bernodakan darah,
Kau linglung, bingung, dengan dengung dunia yang memasung.

Kemarilah,
Tinggalkan kesan menakutkan dari memori hampa,
Kala kau dalam kegelapan kelam,

Kala kau tertegun dalam lamun,
Adakah mentari tenggelam,
runtuh bersama puing gelisah yang hambar dan masam.

Kala kau bertanya,
Adakah asa hanya sebatas kata,
Ataukah ia aksara yang menyulam buta,

Kendati perih dan letih,
Tak bermaksud berdebat saat berpendapat,
Bukan pula mendikte dengan ideologi sepele,

Tetaplah percaya,
Kau belum melihat sisi lain kota,
Kau belum pula berusaha sepenuh daya,
Belum melihat akhir haru dengan tangis bebas bahagia,
Belum merasakan safir sedih di tengah dada ringkih tanpa manifesto nyata. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar