Selasa, 26 Agustus 2014

Sudah Malu?

Sebuah Puisi [2]
Oleh Ismail Sunni Muhammad*



Aku sudah malu untuk berharap,
Dengan seluruh nikmat-Nya  yang tak lekang senyap,
Ku diam diam masih setia bermaksiat,
Secara terang, aku masih seorang hamba yang kadzzab
Apakah masih pantas untuk berharap?

Aku sudah lebih malu untuk berharap,
Mentari rasulullah [saw] yang bersinar menghias diri,
Masih selalu kalah dengan nafsu perut dan syahwat farji,
Begitu lemah dengan umpan dunia, yang menggoda menipu mengikat dusta,
Apakah masih layak aku berharap?


Aku terlalu malu untuk berharap,
Ketika tulus kasih, abah mama yang menyayangi,
Ketika tarbiyah rabbani, murabbi yang halus menasehati,
Masih saja terpasung tiada daya dengan khianat hati yang bertahta,
Hancur terpuruk dalam topeng riya’ tanda durka,
Apakah masih boleh aku berharap?

“Dan hanya kepada Allah lah, hamba-hamba muslim bertawakkal dan berharap”

Duhai Rabbku,
Terimalah harap hamba yang nista,
Terimalah mohon hamba yang penuh keluh  resah,
Terimalah pinta hamba yang tak punya muka.

Kepada siapa lagi, hambaMu ini mampu berharap ya Rabb,
Bila tak padamu, wahai penguasa hati dan dunia.
Bila tak padamu, wahai pengasih terbaik dari mereka yang mencinta.

Bila tak padamu, pemilik syafaat di akhir masa. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar