Selasa, 24 September 2013

Biar hujan membasahiku

Sebuah Puisi


Detak detik jam hijau menggantung di pualam kamarku,
Hanya ia yang menemani bibir dinding yang mulai beku dan kering,
Awan berselimut abu-abu,
Membasahkan dunia dengan butir tangisnya,
Kubuka jendela, dengan mata setengah terbuka,
Malam ini begitu pekat,
Saat fajar pukul 02 pagi mulai mendekat,

Aku benci dengan kau, hujan,
Lebih dari sekedar rasa buruk,
Lebih dari sekedar rasa terpuruk,
Tapi entah mengapa,
Hari ini aku mencintainya,
Seperti angin yang bersua pelangi,
Seperti dedaunan yang mencium bumi,
Aku pikir hujan terlalu basah, lembab dengan rasa naifnya yang dingin,
Maka aku berlari,
Membaur dengan mereka yang tak ingin sedih,
Menjauhi,
Membawa pesan, bahwa cinta seakan menyakiti,
Namun itu dulu,
Saat aku tidak mengerti ada sebuah sesuatu dalam tangis hujan yang sendu.

Saat ini,
Aku berjalan tanpa perlu menghindar,
Tanpa takut tak merasa sabar,
Tanpa cemas dalam hati menggetar,
Menikmati rasa kalbu dalam sentuhan sejuk sang hujan,
Aku bertanya tanpa ditanya dalam hati,
Apa masalahku dengan dia yang kubenci?
Pikirku menyalak, menggumam dalam diam,
Ini sebuah kertas ujian dengan soal tanpa jawaban,
Cinta dimanapun dan kapanpun sama,
Hanya ketika nanti aku berusia 30, aku baru menyadarinya,
Dengan senyum malu beraliskan kesal, sungguh terlambat mengakuinya,

Di suatu tempat yang lain, aku yakin hujan yang sama turut membasahimu,
Di tempat-tempat yang berbeda, yang membekaskan kenangan dan luka yang coba kita lupa,
Sambil meneguhkan dada kembali, tidak lagi ada kata “kita” disana,

Relakanlah!
Biarlah hujan membersihkan semua bingkai memori kita dengan tiap rintiknya,
Aku sungguh tak bisa tak melepaskan semua yang pernah kulakukan denganmu,
Biarlah hujan membasahiku,
Biar ia mengupas semua dirimu yang ada padaku,
Biarlah hujan membasahiku,
Biar aku melepasmu dengan bulir air yang mengalir membasahi kening,
Dengan butir air yang membasahi pipi,
Yang masih berharap kau kan menanti.

Sangat indah, waktu yang kusentuh saat bersamamu,
Saat canda dan tawa alih berganti saling mengisi bibir kita yang sendiri,
Saat aku masih bisa bertahan, menundukkan egoku yang ingin mengekang,
Tapi mengapa kau susupkan rasa perih ini?
Saat aku adalah ia yang sepenuhnya mengetahui kulit dan dagingmu,
Kita melemparkan sauh kisah kasih bersama,
Tapi mengapa kita serasa sebuah mobil tanpa ban yang berjalan tak seimbang,

Saat hujan, dan aku berdiri menghibur sendiri,
Akankah terasa lebih mengobati bila kututup saja mata ini,
Akankah hilang rasa sakit yang menyerang,
Akankah kuterbiasa dengan tiada kau, separuh jiwa.
Suatu saat, cinta baru akan menemukan kita,
Entah itu kita atau dengan dia yang tak kita duga,

Ya, benar,
Aku perlu melupakanmu,
Butuh menghapusmu,
Seakan tidak ada yang terjadi,
Seakan kita tidak pernah saling mencintai,
Seakan kita tidak pernah pula memutus hati,
Seakan kita memang demikian adanya,
Tak pernah melihat dan bersua,
Tak pernah menangis dan tertawa.
Biarlah hujan membasahiku.

Rabu, 25 September 2013, 09.01.
Some people feel the rain, Others just get wet. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar