Senin, 23 September 2013

Memendam Cinta

Sebuah Puisi


Begitu mengakar,
Tak lekang busuk,
Tak patah sirna,
Menggenggam erat,
Merapuhkan daya,
Meretaskan asa.

Begitu terluka dan bahagia,
Menyatu biru harmonis,
Menusuk menyakiti dada senja,
Tak peduli saat dan tempat,
Tak acuh siapa dan bagaimana,
Meresap semua kuasa.

Aksara seakan buta,
Mata layaknya mulut yang berkata,
Terlalu murni untuk jujur,
Terlalu jahat untuk ingkar,
Bicara menjelma perhatian,
Bahasa tubuh mengukir harapan,
Tuk terus dapat pendam perasaan.

Berat dan bangga larut dalam cawan hati,
Dengan bayang takut lekat menghantui,
Atau senyum manis picik menggoda prinsip,
Hanya melelahkan,
Membodohi,
Menguras jerih hidup dalam hari,
Memisahkan logis,
Meruntuhkan komitmen,
Melebur titik prioritas,
Mengguncang tali merah dengan Sang Maha,
Kian menyiksa, mencerca, tanpa tahu akhir jua.

Hati tertegun, memandang tajam cinta,
Harus lekas membuangmu dari arus darah,
Melenyapkan dan membakarnya tanpa sisa,
Cinta meronta derita,
Aku alami, nurani, suci,
Kau kan berdosa, menyesal, kecewa,
Kecuali jika hanya sementara,
Bilamana hati mengalihkan gemuruh dadanya,
Mengukuhkan diri, menjunjung masa,
Dalam azam dan doa.

Selasa, 24 September 2013, 5.32.
Menunggu matahari. Membuang bulan. Terkikis awan, dalam senyum gemeretak angin melawan.
First love never dies, but true love can bury it alive. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar